PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Lonjakan harga plastik 50 hingga 100 persen dikeluhkan masyarakat lantaran memberatkan pelaku usaha. Kenaikan harga plastik terjadi pasca hari raya Idulfitri 2026.
Pedagang plastik di Pasar Kajen, Kabupaten Pekalongan menyebut hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan harga.
“Ya, betul. Naiknya sampai 50 persen,” ujar Tawilah, salah satu pedagang di Pasar Kajen pada Senin, 6 April 2026.
Tawilah merinci, plastik jenis PP ukuran satu kilogram yang sebelumnya Rp8.000 naik menjadi Rp16.000. Plastik owol ukuran seperempat kilogram naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000.
Menurutnya, kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga pada kertas nasi yang melonjak dari Rp10.000 menjadi lebih dari Rp22.000.
“Yang naik juga plastik cup buat es, tapi saya enggak punya,” tambahnya.
Tawilah menjelaskan kenaikan harga mulai terasa setelah lebaran. Sebelum hari raya, harga hanya naik sedikit namun kemudian kembali melonjak hingga total kenaikan mencapai dua kali lipat
Meski berdampak pada penurunan jumlah pembeli, ia mengaku pengaruhnya tidak terlalu besar. Namun demikian, kondisi ini tetap dirasakan berat oleh masyarakat kecil.
“Meresahkan orang kecil. Semua kan pakai plastik, dari kecap sampai kemasannya juga plastik, jadi ikut naik semua,” ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah menjaga stabilitas harga, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
“Yang penting bagi saya BBM jangan naik. Kalau BBM naik, bahaya, semua pasti ikut naik. Kasihan anak-anak sekolah juga,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Sri Harti, pedagang es di foodcourt Kajen. Ia mengungkapkan seluruh jenis plastik yang digunakan untuk usahanya mengalami kenaikan signifikan.
Plastik cup yang sebelumnya dibeli Rp14.000 per lonjor kini menjadi Rp22.500. Plastik PP naik dari Rp28.000 menjadi Rp51.000 per kilogram. Sementara plastik owolan yang biasa dibeli Rp24.000 kini melonjak menjadi Rp42.000.
“Semuanya naik,” tegasnya.
Meski demikian, Sri mengaku belum menaikkan harga jual produknya. Ia masih mempertimbangkan dampaknya terhadap konsumen.
“Kita tetap jualan, untungnya jadi tipis. Mau dinaikkan kasihan pembeli, tapi kalau enggak dinaikkan, kita juga enggak bisa belanja lagi,” ungkapnya.
Ia menyebut kenaikan harga terjadi cepat bahkan hanya dua hari setelah lebaran.
“Saya beli itu dua hari setelah Lebaran, langsung naik. Dari Rp28.000 langsung jadi Rp52.000,” jelasnya.
Sri berharap harga plastik dapat kembali stabil agar pedagang kecil tidak semakin terhimpit.
“Harapannya ya diturunin, biar pedagang kecil bisa jualan enak. Jangan kayak sekarang, serba susah. Pokoknya tolonglah harga distabilkan biar kita bisa jalan,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa





























