GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Kabupaten Grobogan berhasil meraih juara ketiga kompetisi investment challenge dalam ajang Rapat Koordinasi Capacity Building dan Business Matching Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (Keris) Jawa Tengah 2025.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Ballroom PO Hotel Semarang pada Senin, 14 April 2025 itu, Grobogan menonjolkan proyek investasi unggulan berupa pengolahan sampah menjadi bahan bakar terbarukan Refuse Derived Fuel (RDF).
Kompetisi tersebut menjadi wadah bagi 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah (Jateng) untuk menyusun dan mempromosikan portofolio proyek investasi unggulan.
Proyek-proyek yang dipamerkan tidak hanya ditujukan untuk promosi lokal, tetapi juga siap ditawarkan kepada investor nasional maupun internasional.
Proyek investasi unggulan Kabupaten Grobogan berupa pengolahan sampah menjadi RDF sendiri direncanakan berlokasi di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.
PT Semen Grobogan disebut akan memanfaatkan RDF tersebut untuk mengganti bahan bakar batu bara sebesar 20 persen.
Bahkan, proyek investasi gagasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan itu disebut telah menarik minat investor asal Australia, namun masih dalam tahap penjajakan.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengajak semua stakeholder agar mendongkrak investasi di wilayahnya. Sebab, sebanyak 85 persen pembangunan daerah masih bersandar pada investasi, sementara yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) hanya 15 persen.
“Kalau perlu (investasi) pabrik biting pun di Jateng dilayani, karena 85 persen pembangunan daerah dari investasi,” ujar Luthfi.
Untuk memaksimalkan akselerasi investasi, Luthfi menekankan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, agar terus meningkatkan layanan bagi masuknya investor.
Pihaknya mengajak para pemangku kepentingan di wilayah, seluruh kepala daerah di Jateng, OPD, dan elemen terkait, untuk menyamakan persepsi.
“Ini kita brainstorming, supaya investasi di wilayah kita berkembang,” katanya.
Mantan Kapolda Jateng ini menyatakan, setiap kepala daerah punya peran untuk saling bekerja sama dalam mengawal masuknya investasi. Misalnya, kerja sama antarwilayah di sejumlah eks karesidenan di Jateng, atau pengembangan dengan sistem wilayah, seperti antara Blora-Rembang, dan lainnya.
Luthfi juga meminta agar dilakukan percepatan perizinan dan pemangkasan birokrasi, sehingga urusan penanaman investasi di Jateng bisa lancar.
Ia menyampaikan, persediaan tenaga kerja di Jateng tidak kurang. Pada 2024, serapan tenaga kerja di Jawa Tengah mencapai 400 ribu orang. Angka itu muncul dari realisasi investasi di Jawa Tengah pada 2024, yang mencapai Rp88,4 triliun, dengan 65.815 proyek.
Ke depan, pihaknya akan menggenjot pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga pelatihan-pelatihan lain, agar keterampilan dan kemampuan calon tenaga kerja, lebih adaptif pada bidang-bidang kebutuhan industri yang lebih terkini.
Luthfi menambahkan, pihaknya juga terus melakukan pembangunan infrastruktur, agar Jawa Tengah ramah investasi. Pihaknya akan mendorong revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, guna menunjang kapasitas yang lebih besar. Ia juga mengusahakan agar Bandar Udara Jenderal Ahmad Yani kembali berstatus internasional.
Sementara itu, Kepala KPwBI Jateng, Rahmat Dwisaputra, menekankan, Forum Koordinasi antara Pemprov Jateng dan BI, dimaksudkan untuk merancang strategi investasi ke depan.
“Dalam tiga tahun terakhir, fokus industri pertanian dan sirkular ekonomi. Ini cocok, karena Jateng sebagai wilayah lumbung pangan,” katanya. (Linkgar Network | Lingkarjateng.id)






























