PONOROGO, Lingkarjateng.id – Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor bersama civitas akademika Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor berduka atas wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, MA. Almarhum merupakan Guru Besar pertama UNIDA Gontor sekaligus salah satu tokoh sentral pengembangan pendidikan pesantren di Indonesia.
Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, MA wafat pada Sabtu, 3 Januari 2026, di RSUD Dr. Moewardi, Surakarta. Cendekiawan Muslim kelahiran 4 November 1947 itu merupakan putra dari KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Riwayat pendidikan almarhum dimulai dari Sekolah Rakyat Gontor, dilanjutkan ke SMP Muhammadiyah Jetis, kemudian Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Gontor.
Ia meraih gelar Sarjana Muda di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor, Sarjana Perbandingan Agama di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1978, Magister Filsafat Islam di Universitas Kairo, Mesir pada 1987, serta gelar Doktor bidang Aqidah dan Pemikiran Islam dari Universiti Malaya, Malaysia pada 2006.
Dalam perjalanan pengabdian akademik, Prof. Amal mengawali kiprahnya sebagai guru di KMI Gontor sejak 1969. Ia kemudian menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IPD Gontor pada 1988–2000, Rektor Universitas Darussalam Gontor periode 2014–2020, dan terakhir sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sejak 2020 hingga wafat.
Sebagai akademisi, Prof. Amal dikenal aktif mengembangkan pendidikan Islam, khususnya dalam bidang Aqidah dan Filsafat Islam. Ia juga berperan besar dalam mengenalkan dan mengembangkan pola pendidikan mu’allimin, yakni integrasi kurikulum agama dan non-agama bagi pesantren yang telah mendapatkan status mu’adalah.
Perannya di tingkat nasional tampak melalui kiprahnya sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah.
Melalui forum tersebut, ia turut mendorong lahirnya kurikulum pesantren yang lebih komprehensif dan integratif, sekaligus memperjuangkan pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren hingga disahkannya Undang-Undang Pesantren pada 2018.
Sejumlah karya ilmiah telah dihasilkan almarhum, di antaranya Theology Hindu Dharma dan Islam (1996), Manhaj al-Bahth al-Falsafi (1997), ‘Ilmu Kalam (1998), al-Salaf wa al-Salafiyyah fi al-Fikr al-Islami (2002), Nazariyah al-Fana’ ‘inda Abi Yazid al-Bustami (2003), al-Ittijah al-Salafi al-Fikr al-Islami al-Hadith bi Indonesiya (2006), serta Aqidah al-Tawhid ‘inda al-Falasifah wa al-Mutakallimin wa al-Sufiyah (2009).
Semangat belajar almarhum dikenal kuat sejak muda hingga usia lanjut. Keberhasilan studi magisternya di Universitas Kairo disebut tidak lepas dari dorongan keras sang ayah, KH Imam Zarkasyi, melalui pesan rekaman kaset,
“Amal harus belajar sungguh-sungguh hingga meraih Master. Bila tidak, jangan kembali ke Gontor, bahkan bila saya mati pun, Amal tak usah pulang!”
Di lingkungan kampus, Prof. Amal dikenal sebagai dosen yang inspiratif, santun, dan rendah hati. Ia kerap memberi kemudahan akses referensi bagi mahasiswa, menunjukkan keteladanan disiplin mengajar, serta konsisten memenuhi tanggung jawab akademik. Sikap kepeduliannya terhadap mahasiswa dan dosen junior menjadi teladan yang membekas bagi banyak kalangan.
Selain aktif dalam seminar dan konferensi internasional, Prof. Amal juga merupakan bagian dari tiga serangkai pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Drs. Akrim Mariyat. Kepemimpinan pesantren tersebut dikenal kuat dalam menjaga tradisi dan kesinambungan nilai, sejalan dengan prinsip khairu khalaf likhairi salaf.
Jenazah almarhum dimakamkan pada Ahad, 4 Januari 2026, pukul 09.00 WIB di pemakaman keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, MA menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam dan pesantren di Indonesia.



























