DEMAK, Lingkarjateng.id – Ratusan warga Dukuh Morosari dan Tonosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, menggruduk Kantor Bupati Demak guna mendesak pemerintah daerah setempat untuk mengatasi permasalahan rob.
Salah satu warga setempat, Romadhon, mengungkapkan bahwa rob semakin tahun makin tinggi bahkan menggenangi jalan di daerahnya. Keadaan ini diperparah dengan adanya truk-truk besar proyek pembangunan tol yang lalu-lalang yang mengakibatkan air rob masuk ke dalam rumah warga.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah maupun pihak proyek agar melakukan peninggian jalan di daerahnya tersebut.
“Rob memang kondisi alam, namun permasalahannya lewatnya lalu-lalang dari truk besar proyek itu mengakibatkan ombak masuk ke rumah-rumah. Warga banyak yang jengkel. Masalah ombak itu kami minta meninggikan jalan agar ombak yang dari truk tidak masuk ke rumah warga,” katanya.
Senada, Sudarman mengatakan bahwa jalan di daerahnya yang terendam rob tersebut merupakan akses jalan utama untuk menuju ke laut.
“Kondisinya kalau rob selutut, kami berlakukan buka tutup sekitar 3 jam kalau robnya tinggi, kalau kami buka air akan masuk ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Sudarman juga mengaku bahwa pihaknya mendukung penuh proyek pembangunan tol, namun ia mendesak pemerintah untuk memperhatikan kondisi warga setempat.
“Kita mendukung proyek itu, tapi jalan harus diperhatikan. Kenapa tidak bisa ditinggikan? Kita menyampaikan ini 1,5 km itu kalau rob selalu tergenang. Kami tidak menghambat tol. Tuntutan masyarakat itu jalan utama harus ditinggikan,” terangnya.
Kepala Desa Bedono, Agus Salim, yang turut serta dalam audiensi juga menyampaikan bahwa tuntutan tersebut yakni agar pemerintah maupun pihak proyek memikirkan kondisi warganya, salah satunya dengan peninggian jalan.
“Peninggian jalan yang diakses oleh proyek tol yang melintas di Dukuh Morosari, Tonosari, dan Pandansari. Ini berdampak bagi warga, bilama truk-truk melintas di waktu rob tinggi sehingga pemukiman warga terhempas ombak akibat truk yang melintas itu,” katanya usai audiensi.
“Akses itu utama, yang mereka harapkan adalah peninggian dengan baik menggunakan padas atau yang lainnya, sehingga rumah mereka aman dari hempasan ombak yang terjadi saat truk melintas,” sambungnya.
Apabila tidak dilakukan peninggian jalan, dirinya mengkhawatirkan warga nekat melakukan tindakan penutupan akses jalan satu-satunya yang dilalui oleh truk besar proyek tol tersebut.
“Apabila tidak ditinggikan, mereka ada aksi besar seperti menutup akses jalan tersebut sehingga proyek tol itu bisa berhenti,” katanya. (Lingkar Network | M. Burhanuddin Aslam – Lingkarjateng.id)
































