Demak (lingkarjateng.id) – Bencana banjir yang melanda Dukuh Kedung Banteng dan Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, tidak hanya merendam permukiman warga dan akses jalan, tetapi juga berdampak serius terhadap sektor pertanian.
Puluhan hektare lahan persawahan tanaman padi terendam banjir selama lebih dari sepekan dan terancam gagal panen.
Tugino, salah seorang petani setempat mengungkapkan jika banjir merupakan persoalan tahunan yang terus berulang dan merugikan petani. Karena keterbatasan mata pencaharian, sehingga warga tetap menanam padi.
“Saban tahun langganan banjir. Sawah sering terendam, tapi tetap ditanami,” ujar Tugino saat ditemui wartawan, Selasa (20/1/2026).
Tugino menyebut hasil panen sebelum banjir bisa mencapai nilai sekitar Rp 12 juta. Namun setelah sering terendam banjir, pendapatan petani justru merosot drastis.
“Sekarang paling dapat Rp3 juta sampai Rp5 juta, itu pun banyak yang gagal sebab terendam air dan sudah pasti gabuk. Per bahu biasanya bisa Rp 5 sampai Rp 6 juta,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kata Tugino, sebenarnya masa panen masih sekitar satu bulan lagi. Namun dengan kondisi tanaman padi yang sudah terendam banjir, peluang untuk panen dipastikan hilang. Padahal, harga gabah sebelum musim hujan mencapai Rp 7.300 hingga Rp 7.400 per kilogram.
“Kalau hujan terus seperti ini, harganya sangat jelas bisa turun,” ucapnnya.
Ia berharap Sipon Gajah dapat dibangun menjadi jembatan agar aliran air tidak tersumbat. “Harapanya sipon gajah itu dibuat jembatan sehingga air tidak muntel dibawah dan mengganggu. Kalau dibuat jembatan ga mungkin kayak gini,” tandasnya.
Terpisah, Sekretaris Desa Wonorejo, Muhammad Saiful Ulum, mengatakan dari total kurang lebih 80 hektare area persawahan sekitar 30 persennya terdampak banjir dan berpotensi gagal panen. Padahal, sebagian besar saat ini berada pada fase menjelang panen.
“Sebetulnya ini sudah masuk masa panen. Namun karena sawah terendam banjir cukup lama, ada beberapa lahan yang terancam bahkan sudah dipastikan gagal panen,” kata dia, Selasa (21/1).
Menurut Saiful, kondisi terparah terjadi di wilayah Dukuh Kedung Banteng. Ketinggian air yang cukup tinggi menyebabkan tanaman padi terendam hampir selama 10 hari. Hal serupa juga terjadi di area persawahan Desa Wonorejo yang berada dekat dengan permukiman warga.
“Di Kedung Banteng banjirnya cukup tinggi dan padinya terendam lama. Di Wonorejo juga ada sawah-sawah dekat permukiman yang kemungkinan besar gagal panen,” tambahnya.
Pemerintah Desa Wonorejo berharap ada penanganan serius dari pemerintah terkait untuk mencegah banjir berulang. Salah satu yang diusulkan adalah normalisasi sungai afour hingga ke Sipon Gajah, yang selama ini dinilai tidak mampu menampung debit air dari sejumlah desa. ***
Jurnalis : M. Burhan
Editor : Fian
































