Demi Beli Kebutuhan Pokok, Warga Jakenan Pati Jalan Kaki 3 Km Terobos Banjir

Demi Beli Kebutuhan Pokok Warga Jakenan Pati Jalan Kaki 3 Km Terobos Banjir

TERDAMPAK BANJIR: Salah satu warga Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati membawa barang belanjaan sejauh tiga kilometer untuk persediaan pangan di rumah, pada Sabtu, 16 Maret 2024. (Setyo Nugroho/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id – Banjir yang melanda Kabupaten Pati sudah berlangsung selama 3 hingga 5 hari. Akibatnya, beberapa wilayah yang terdampak banjir kesulitan mendapatkan bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, wilayah yang tergenang banjir sebanyak 9 kecamatan dan 40 desa.

Salah satu warga terdampak banjir di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Parno (52) terpaksa harus jalan kaki sejauh tiga kilometer dengan menerobos banjir demi berbelanja kebutuhan pokok.

5 Desa di Juwana Pati Terendam Banjir, Warga Pilih Bertahan di Rumah

“Dari Desa Kalimulya. Sekitar 3 kilometer dari sini,” kata Parno, pada Sabtu, 16 Maret 2024.

Rumahnya yang sudah tergenang banjir selama 5 hari, memaksa dirinya untuk menyediakan stok pangan bagi keluarganya di rumah.

Ia mengaku, harus berbelanja 2 sampai 3 hari sekali untuk sahur dan berbuka pada bulan Ramadhan.

Ruang Kelas Terdampak Banjir di Pati, Sejumlah Sekolah Terapkan KBM Daring

“Beli mie instan untuk anak-anak, buat stok selama banjir untuk anak-anak dan istri. Ada kopi, gula, minyak, dan lainnya. Ini habis Rp300.000,” lanjutnya.

Ia menyebut, banjir di desanya datang secara mendadak dan air semakin tinggi dengan cepat. Sehingga, tidak ada persiapan untuk menyediakan stok pangan.

Melihat pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, kata Parno, genangan air dapat bertahan selama berbulan-bulan.

Dampak Banjir di Pati, Pedagang Pasar Glonggong Sepi Pembeli

“Kalau daerah lain, lima hari surut. Kalau di sini sampai berbulan-bulan. Karena airnya tumpah ke sini  semua dari atas. Minimal 3 bulan baru surut, karena tahun kemarin sampai 7 bulan,” jelasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Asfia Farha (35). Ia harus memenuhi kebutuhan pokok di rumah selama  banjir. Ia juga mengaku sulit mendapatkannya, dirinya bahkan mengaku gas LPG miliknya tinggal cadangan terakhir yang ia gunakan.

“Khusus untuk kebutuhan pangan, misal sayuran, ikan dan lain-lain. Itu masyarakat kesulitan mendapatkannya. Gas (LPG) pun tidak ada, ini sudah cadangan terakhir,” keluhnya.

Sebelumnya, banjir di Kabupaten Pati turut berimbas ke lingkungan pendidikan. Sejumlah sekolah baik tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama terpaksa diliburkan karena ruang kelas tergenang air.

Banjir di Pati, Arus Lalu Lintas Jalan Jakenan-Winong Lumpuh

Seperti di Kecamatan Jakenan, Gabus, dan Juwana. Kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di rumah masing-masing siswa dengan sistem daring.

Guru SDN Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Yayang Anggraeni (24) mengatakan selama banjir masih merendam lingkungan pendidikan proses KBM dilaksanakan secara daring dengan media Google Meet.

“Daring, tetap memberikan pelajaran lewat Google Meet. Jam 08.00-11.00 WIB, ‘kan ini puasa,” ujarnya pada Jumat, 15 Maret 2024. (Lingkar Network | Setyo Nugroho – Lingkarjateng.id)

Exit mobile version