Semarang (lingkarjateng.id) – Pembangunan Jalan Kaligawe jelang arus mudik Lebaran dinilai menjadi dilema. Diketahui proyek tersebut penting untuk penanganan infrastruktur, namun di sisi lain berpotensi menambah beban kemacetan dan risiko kecelakaan di jalur Pantura.
Pembangunan jalur kereta api Semarang- Rembang dapat menjadi solusi kemaceran jalan Pantura Jawa Tengah.
Hal ini diungkapkan oleh, Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menurutnya beban terberat arus mudik setiap tahun memang terjadi di koridor Jakarta–Semarang. Sementara arus dari Semarang ke arah timur relatif lebih terpecah.
“Kalau Lebaran memang beban paling berat itu dari Jakarta sampai Semarang. Setelah Semarang biasanya sudah mulai terpecah,” kata Djoko, Kamis (26/2).
Menurut Djoko, untuk jalur Semarang–Demak, kepadatan kemungkinan akan bergeser ke wilayah Mranggen sebagai jalur alternatif.
Sementara pemudik tujuan Surabaya cenderung memilih jalan tol sehingga beban lalu lintas tidak sepenuhnya bertumpu di jalur arteri.
Ia menilai waktu pelaksanaan proyek yang berdekatan dengan Lebaran dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pencairan anggaran dan kondisi cuaca.
“Anggarannya juga baru keluar. Belum lagi faktor hujan dan banjir. Jadi memang serba dilematis. Kalau tidak dikerjakan, kondisinya bisa lebih parah,” jelasnya.
Namun Djoko mengingatkan, solusi jangka panjang tak cukup hanya berfokus pada perbaikan jalan. Ia mendorong percepatan pembangunan jalur kereta api Semarang–Rembang sebagai alternatif transportasi.
“Kalau jalur kereta itu dibangun, ketika jalan rusak atau terendam, orang masih punya pilihan naik kereta. Kajian sudah ada, tinggal ditindaklanjuti,” tegasnya.
Selain menjadi alternatif bagi penumpang, jalur tersebut juga dinilai mampu mengurangi beban angkutan barang di jalur Pantura yang selama ini didominasi truk bertonase berlebih.
Menurutnya, perpindahan angkutan logistik ke moda kereta akan memperpanjang usia jalan sekaligus menekan potensi kerusakan.
Djoko berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penyelesaian proyek fisik, tetapi juga membangun sistem transportasi terintegrasi dan memperkuat edukasi keselamatan berlalu lintas.
Dengan begitu, dampak pembangunan terhadap masyarakat dapat ditekan, terutama pada momentum mudik Lebaran yang selalu menjadi periode krusial bagi jalur Pantura Semarang. ***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Fian































