KENDAL, Lingkarjateng.id – Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, memiliki tradisi unik yang telah berlangsung lama, yaitu Merdi Desa.
Setiap bulan Asyura atau Muharram, masyarakat Desa Jungsemi menggelar Merdi Desa dengan rangkaian kegiatan yang sarat makna.
Salah satu yang menjadi kegiatan rutin diantaranya melakukan penyembelihan hewan yakni kerbau bule dan pagelaran wayang kulit.
Kepala Desa Jungsemi, Dasuki mengatakan, kerbau bule nantinya dipotong, setelah itu akan dimasak dan dimakan bersama-sama.
“Setelah dipotong, kerbau bule yang sudah dimasak kemudian dihidangkan untuk selamatan usai doa bersama di Makam sesepuh Desa Jungsemi,” ujarnya.
Ditambahkan, tradisi tersebut merupakan warisan dari para pendahulu Desa Jungsemi. Serta wujud syukur warga atas keberkahan dan kelimpahan rezeki.
“Pendahulu Jungsemi adalah orang-orang hebat yang telah mewariskan budaya dan ekonomi yang sedemikian rupa. Para leluhur kita mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kebudayaan dan tanah Jungsemi,” tambahnya.
Dirinya berharap, masyarakat semakin bersatu, rukun dan senantiasa menyukuri nikmat dan terus melestarikan warisan budaya leluhur.
Sementara itu, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengajak, seluruh warga agar terus nguri-uri budaya lokal, terutama di tengah gempuran budaya asing terutama di era globalisasi saat ini.
“Karena apabila budaya seperti ini tidak kita lestarikan dan tidak kita laksanakan mungkin anak cucu kita kedepannya tidak tahu dan tidak mengenal lagi budaya asli leluhur kita,” ujarnya.
Dirinya berharap, Desa Jungsemi semakin maju dan Pantai Indah Kemangi menjadi destinasi wisata pantai andalan di Kabupaten Kendal.
“Dan kebetulan tahun ini ada penyembelihan kerbau bule, dimasak bareng-bareng, kemudian dimakan bareng-bareng. Semoga kita mendapatkan keberkahannya,” pungkasnya.
Jurnalis: Arvian Maulana
Editor: Sekar S
































