Blora (lingkarjateng.id) – Jumlah angka stunting di Kabupaten Blora saat ini tengah menjadi perhatian serius. Setidaknya terdapat 2.776 Balita yang alami stunting. Atau sekitar 6,15 persen dari total 45.113 balita yang diukur.
Data analisis situasi percepatan pencegahan dan penurunan stunting Kabupaten Blora tahun 2026 menyebut jumlah penduduk 960.117 jiwa mencatat prevalensi balita stunting sebesar 21,7 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.
Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 21,2 persen, sementara pada tahun 2025 tidak dilaksanakan survei.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengukuran rutin di Posyandu, tercatat sebanyak 2.776 balita mengalami stunting atau sekitar 6,15 persen dari total 45.113 balita yang diukur.
Dari 16 kecamatan di Kabupaten Blora, terdapat lima kecamatan dengan prevalensi stunting di atas rata-rata kabupaten, yaitu Kecamatan Kunduran (11,65 persen), Tunjungan (10,90 persen), Jepon (7,14 persen), Cepu (6,52 persen), dan Sambong (6,48 persen).
Jumlah balita stunting terbanyak tercatat di Kecamatan Kunduran sebanyak 340 balita, sedangkan jumlah paling sedikit berada di Kecamatan Bogorejo sebanyak 65 balita. Sementara itu, Kecamatan Kedungtuban menjadi wilayah dengan prevalensi stunting terendah, yakni sebesar 4,22 persen.
Wakil Bupati (Wabup) Blora, Sri Setyorini menegaskan, percepatan pencegahan dan penurunan stunting merupakan salah satu program prioritas nasional yang dicanangkan Presiden. Untu itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga komitmen bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
“Program ini harus kita kawal secara serius, kita kerjakan secara gotong royong, dan kita pastikan berjalan efektif serta tepat sasaran. Kunci keberhasilannya terletak pada sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah serta konvergensi lintas sektor hingga tingkat desa,” ujar Wakil Bupati.
Ia menyampaikan, tanpa kolaborasi yang solid dari seluruh pihak, target penurunan stunting yang telah ditetapkan akan sulit dicapai.
Wabup menegaskan bahwa data yang ada harus menjadi dasar penguatan langkah ke depan, termasuk memastikan intervensi berbasis data, memfokuskan program pada wilayah dengan prevalensi tinggi.
Selain itu, memperkuat peran Posyandu, meningkatkan kualitas pendampingan keluarga berisiko stunting, serta memastikan pemenuhan layanan dasar secara menyeluruh.
Serta peningkatan kesadaran masyarakat melalui kampanye dan edukasi juga perlu terus digencarkan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan keberlanjutan program dan dukungan pendanaan secara berkelanjutan.
“Data ini menjadi pengingat sekaligus panggilan bagi kita untuk memperkuat langkah bersama dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Blora,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Hanafi
Editor : Fian






























