GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Pasca sukses meraih juara III dalam ajang Investment Challenge 2024, proyek investasi pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngembak di Purwodadi mulai menarik perhatian sejumlah investor, baik lokal maupun mancanegara. Investor dari Belarus, Singapura, Denmark, hingga Jepang tercatat telah melakukan penjajakan awal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan melalui Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Lilik Uniarto, menyatakan bahwa kunjungan awal para investor dimulai dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Di sana mereka mendapat pemaparan mengenai rencana pengelolaan sampah dan peluang investasi di sektor tersebut.
Lilik mengatakan bahwa penanganan sampah sebenarnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan. Namun, jika semua pembiayaan sepenuhnya mengandalkan APBD bisa berdampak pada alokasi anggaran untuk sektor lain.
Sebagai solusi, Pemkab Grobogan menawarkan skema kerja sama pembangunan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF), yang akan mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Produk RDF tersebut nantinya akan dimanfaatkan oleh PT Semen Grobogan yang berlokasi tak jauh dari TPA Ngembak sebagai off taker.
“Investor mendapatkan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi energi terbarukan,” kata Lilik.
Usai pemaparan, sejumlah investor langsung meninjau kondisi lapangan dan kesiapan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan hanggar RDF.
Dari beberapa negara yang menjajaki proyek ini, Denmark dan Jepang disebut sebagai pihak yang menunjukkan minat paling serius dan telah melakukan verifikasi lapangan.
Menurutnya Lilik, proyek investasi pengelolaan TPA Ngembak menjadi menarik karena adanya off taker RDF dalam satu kawasan, yaitu PT Semen Grobogan.
“Jadi upaya pengolahan sampah dan pemanfaatan hasilnya terintegrasi dalam satu wilayah,” ujarnya.
Terkait skema investasi, Pemkab Grobogan menargetkan tahun ini sudah bisa menetapkan mekanisme dan mitra terbaik. Saat ini, opsi kerja sama masih bersifat fleksibel.
“Yang penting tidak ada pihak yang dirugikan,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid






























