JEPARA, Lingkarjateng.id – Kebijakan baru yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berupa tarif impor dari Indonesia sebesar 32 persen mulai berdampak kepada para eksportir furnitur di Kabupaten Jepara. Salah satunya ialah PT Raisa Furniture yang terpaksa harus menunda pengiriman dua dari tiga kontainer furnitur yang siap diekspor ke pasar AS.
Manajer Marketing PT Raisa Furniture, Hadiyatu Nasiah, menjelaskan bahwa setiap tahun perusahaannya mengirim sekitar 12 kontainer berisi beragam produk furnitur, termasuk lemari, meja, dan kursi, dengan nilai ekspor antara 20 ribu hingga 30 ribu dolar AS (USD) per kontainernya. Namun, setelah kebijakan tarif baru diterapkan, mereka merasakan penurunan permintaan.
“Hampir dua minggu setelah lebaran, kami belum menerima order baru dari importir di AS,” kata Hadiyatu di Jepara pada Jumat, 11 April 2025.
Meski sebelumnya prospek pasar AS terlihat menjanjikan, terutama setelah kebakaran hebat di Los Angeles, kondisi saat ini berubah drastis dengan adanya kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS.
Hadiyatu menambahkan bahwa penjualan ke AS menyumbang sekitar 20 persen dari total nilai ekspor furnitur perusahaan, sehingga dampak dari kebijakan yang diterapkan Trump sangat dirasakan.
Berdasarkan data ekspor dari Jepara, pada tahun 2024, terdapat 298 eksportir yang beroperasi, dengan total nilai ekspor mencapai 589,58 juta USD.
Menanggapi hal itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyatakan bahwa pihaknya akan segera berkomunikasi dengan para pelaku usaha untuk mengevaluasi dampak kebijakan tarif tersebut dan mencari alternatif pasar ekspor lain.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga daya saing produk furnitur Jepara di tengah perang dagang yang semakin memanas antara AS dan China.
“Kami akan berupaya untuk menemukan strategi yang tepat agar para eksportir dapat terus beroperasi dan bersaing,” kata Mas Wiwit, sapaan akrabnya.
Optimisme tetap terjaga di kalangan pelaku industri meskipun tantangan baru muncul. Menurut Wiwit, tarif 32 persen masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam yang tarifnya mencapai 40 persen.
Selain AS, jika dilihat dari data, ada beberapa negara yang selama ini menjadi jujugan ekspor mebel asal Jepara, seperti Belgia, Inggris, Korea Selatan, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Australia, dan lainnya.
“Kami percaya bahwa produk kami masih memiliki daya saing di pasar internasional,” tandasnya. (Lingkar Network | Muhammad Aminudin – Lingkarjateng.id)
































