BLORA, Lingkarjateng.id – Program revitalisasi sekolah yang menyasar 136 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMP di Kabupaten Blora mampu menyerap sekitar 2.040 tenaga kerja lokal. Revitalisasi dilaksanakan secara swakelola oleh sekolah penerima bantuan.
Dinas Pendidikan (Dindik) Blora mencatat alokasi anggaran untuk revitalisasi sekolah mencapai Rp85,7 miliar yang berasal dari APBN. Dana tersebut dimanfaatkan untuk perbaikan sarana prasarana belajar mengajar.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Blora, Sandy Tresna Hadi, mengatakan jumlah pekerja yang terlibat bervariasi di setiap satuan pendidikan. Rata-rata pekerja di setiap sekolah penerima manfaat yakni sekitar 15-25 orang.
“Pada tahap pertama, sebanyak 465 tenaga kerja lokal terserap dari 31 satuan pendidikan penerima bantuan revitalisasi,” ujar Sandy, Rabu, 21 Oktober 2026.
Pada tahap pertama, sambung Sandy, revitalisasi menyasar 31 satuan pendidikan, terdiri atas 15 SD, tiga SMP, dan 13 TK. Program tersebut menyerap 465 pekerja dengan anggaran sekitar Rp19,7 miliar.
Sementara pada tahap kedua, sebanyak 105 satuan pendidikan menerima bantuan dengan anggaran sekitar Rp66 miliar. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 1.575 orang.
Rinciannya, revitalisasi 66 TK menyerap 990 pekerja dengan anggaran Rp36,6 miliar. Kemudian, 31 SD menyerap 465 pekerja dengan anggaran Rp23 miliar, sedangkan delapan SMP menyerap 120 pekerja dengan anggaran Rp6,5 miliar.
Dengan demikian, total ada 136 satuan pendidikan yang mendapat bantuan revitalisasi pada kedua tahap tersebut. Jumlah itu terdiri atas 79 TK, 46 SD, dan 11 SMP.
Di sisi lain, Sandy menjelaskan, penentuan penerima bantuan mempertimbangkan tingkat kerusakan bangunan serta urgensi perbaikan fasilitas pendidikan.
Menurutnya, jumlah sekolah di Blora cukup banyak, yakni sekitar 600 SD, 102 SMP, serta lebih dari 900 satuan pendidikan TK/PAUD. Namun, tidak semua sekolah yang mengajukan bantuan bisa mendapat program revitalisasi.
“Dari seluruh usulan tersebut, yang diprioritaskan hanya sekolah dengan tingkat kerusakan paling mendesak,” ujarnya.
Sementara itu, SMP N 1 Jepon yang kali ini juga turut mendapatkan program revitalisasi dengan nilai anggaran mencapai sekitar Rp804 juta telah melibatkan 15 pekerja dari sekitar sekolah tersebut.
“Kita ambil pekerja dari sekitar sekolah, ada sekitar 15 pekerja yang kita libatkan,” ujar Kepala SMP N 1 Jepon, Eny Rubiyanti.
Tak hanya mempekerjakan tenaga sekitar Sekolah, ia juga mendaftarkan seluruh pekerja ke BPJS ketenagakerjaan, sebagai hak pekerja.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa































