REMBANG, Lingkarjateng.id – Lahan tambak seluas sekitar 1.855 meter di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang disulap menjadi kanvas lukisan raksasa. Puluhan ton garam berubah menjadi karya seni yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir.
Karya ini disebut merupakan lukisan garam terbesar se-Asia, karena memanfaatkan sekitar 8 hingga 9 ton garam dari total 10 ton yang disiapkan. Lokasinya berada di sebelah timur Taman Dasun, tidak jauh dari jalur Pantura Semarang-Surabaya.
Festival bertajuk Ketika Garam Menjadi Bahasa, Festival Garam Dasun ini digelar Komunitas Pusaka Dasun bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi menjelaskan bahwa proses pembuatan lukisan membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
“Pengeringan tambak lima hari, sketsa satu hari, mengukur jarak skala satu hari, dan khusus melukisnya sendiri tiga hari. Total kira-kira 10 hari,” ungkap Eggy, Minggu, 18 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, membuat lukisan di atas lahan seluas hampir 1.900 meter persegi bukan perkara mudah. Para seniman harus memastikan setiap bagian gambar sesuai dengan skala yang telah dirancang.
Ukuran karya yang sangat luas membuat mereka tidak bisa melihat keseluruhan gambar dari jarak dekat.
“Melukis cumi-cumi misalnya, ujung ekor di sini, kepalanya di sana, tidak kelihatan. Jadi, butuh waktu menyesuaikan skala,” jelasnya.
Tantangan lain datang dari cuaca. Suhu panas di area tambak membuat waktu kerja para seniman harus dibatasi.
Pengerjaan biasanya dilakukan pada pagi hari hingga pukul 09.00. Setelah itu, mereka beristirahat sebelum kembali melanjutkan pekerjaan sekitar pukul 15.00 hingga menjelang matahari terbenam.
“Untuk cuaca, panas sekali, bahkan sampai 41 derajat. Kita kerja pagi hanya sampai jam sembilan. Lebih dari itu, sebagian teman sudah tidak kuat, pusing katanya. Kalau petani Dasun sudah biasa. Lalu kita lanjutkan sore hari, jam tiga sore hingga menjelang matahari terbenam,” tuturnya.
Proses kreatif tersebut melibatkan 25 orang, terdiri atas 10 petani garam Desa Dasun, 10 seniman residensi dari berbagai daerah, serta lima pendamping teknis.
Sepuluh seniman residensi itu berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Jepara, Lasem, Rembang, Kediri, Jatiwangi, dan Pati.
Secara visual, lukisan garam Dasun menampilkan beragam biota laut dan aktivitas masyarakat dalam memproduksi garam.
Terdapat pula visual sesaji sedekah laut yang merepresentasikan rasa syukur masyarakat pesisir. Berbagai simbol kehidupan laut, hasil tangkapan nelayan, Gajah Mina, biota renik, hingga hutan mangrove turut menjadi bagian dari karya tersebut.
Menurut Eggy, lukisan ini tidak semata-mata dibuat untuk menghadirkan karya seni berukuran besar. Ada pesan yang ingin disampaikan mengenai keberlangsungan profesi petani garam dan ketergantungan manusia terhadap alam.
“Intinya, yuk kita sama-sama menjaga kelestarian alam dan laut kita, karena banyak yang menggantungkan hidup dari sana, termasuk petani garam,” tegasnya.
Melalui Festival Garam Dasun, ruang produksi garam yang selama ini identik dengan aktivitas ekonomi juga diperkenalkan sebagai ruang ekspresi budaya.
Keunikan lukisan garam tersebut turut menarik perhatian wisatawan dari luar daerah.
Pramudiya, pengunjung asal Tulungagung, Jawa Timur, misalnya, rela menempuh perjalanan sekitar enam jam untuk melihat langsung karya seni yang dibuat menggunakan garam tersebut.
Ia mengaku mengetahui keberadaan Festival Garam Dasun melalui media sosial TikTok.
“Ini hal baru bagi saya, baru pertama kali mengunjungi karya seni dengan bahan garam seperti ini,” ujarnya.
Menurut Pramudiya, festival tersebut memiliki potensi untuk terus dikembangkan karena mampu mempertemukan seni dengan kekayaan budaya lokal.
“Harapannya acara ini terus dikembangkan karena selain mengangkat potensi seni budaya lokal di Rembang, juga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar,” tambahnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Sekar





























