PATI, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat dampak kekeringan melanda 75 desa di 12 kecamatan pada musim kemarau 2026. Dari jumlah tersebut, sejumlah desa di tujuh kecamatan mengalami kekeringan berat.
Terdapat dua kategori kekeringan di wilayah Pati, yakni kekeringan ringan yang terjadi apabila terdapat satu hingga dua desa yang terdampak. Sementara wilayah dikategorikan kekeringan berat apabila yang terdampak lebih dari tujuh desa.
Berdasarkan data BPBD Pati periode 23 Juli hingga Oktober 2026 jumlah warga terdampak kekeringan mencapai 13.698 KK atau 45.618 jiwa.
Pemerintah Kabupaten Pati telah memberikan atensi dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Bantuan dikirim melalui BPBP dengan total 2.917.000 liter atau 620 tangki. Sedangkan dari PMI sebanyak 1.790.000 liter atau 358 tangki air bersih.
Sementara itu berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Pati termasuk wilayah berstatus awas kekeringan meteorologis pada Dasarian II Oktober 2026 atau periode 11-20 Oktober di tengah peralihan musim kemarau menuju musim hujan.
“Status awas merupakan tingkat peringatan tertinggi dalam pemetaan dini kekeringan meteorologis,” kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng Goeroeh Tjiptanto dalam keterangan yang diterima pada Senin, 19 Oktober 2026.
Menurutnya, Sebagian wilayah Kabupaten Jepara, Pati, Rembang, serta sebagian kecil Demak, diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Dasarian II Desember atau pertengahan Desember 2026.
Goeroeh mengatakan BMKG juga memperkirakan awal musim hujan di seluruh zona musim di Jateng mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal berdasarkan periode klimatologis 1991–2020.
Menurutnya, masa peralihan musim perlu diwaspadai karena hujan yang turun sesekali belum tentu menandakan musim hujan telah dimulai.
“Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tetap mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan kebutuhan air sektor pertanian, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa transisi,” kata Goeroeh.
Berikut ini wilayah Kabupaten Pati yang terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026:
Kekeringan Ringan
Kecamatan Dukuhseti dengan wilayah terdampak di Desa Ngagel dan Alasdowo.
Kecamatan Tayu dengan wilayah terdampak di Desa Luwang.
Kecamatan Pati dengan wilayah terdampak di Desa Sinoman.
Kecamatan Batangan dengan wilayah terdampak di Desa Pecangaan.
Kecamatan Sukolilo dengan wilayah terdampak di Desa Cengkalsewu
Kekeringan Berat
Kecamatan Jaken dengan sembilan wilayah terdampak, meliputi Desa Sidomukti, Ronggo, Mojoluhur, Mojolampir, Boto, Mantingan, Lundo, Arumanis, Kebonturi.
Kecamatan Jakenan terdapat 14 desa dilanda kekeringan yakni Desa Tlogorejo, Tondokerto, Tambahmulyo, Plosojenar, Kalimulyo, Karangrejo lor, Sendangsoko, Jakenan, Bungasrejo, Sembaturagung, Mantingan Tengah, Sonorejo, Glonggong, Jatisari.
Kecamatan Pucakwangi, wilayah terdampak kekeringan dialami warga di 10 desa, yakni Desa Tanjungsekar, Kletek, Terteg, Sitimulyo, Kepohkencono, Triguno, Mojoagung, Karangwotan, Mencon, Karangrejo.
Kecamatan Winong, terdapat 11 desa terdampak kekeringan yakni Desa Sumbermulyo, Mintorahayu, Kropak, Sarimulyo, Wirun, Kebowan, Bumuharjo, Degan, Winong, Tawangrejo, Karangsumber.
Kecamatan Tambakromo terdapat 8 desa terdampak kekeringan yang meliputi Desa Sinomwododo, Tambaharjo, Maitan, Keben, Tambakromo, Karangwono, Larangan, Wukirsari.
Kecamatan Kayen terdapar 7 desa mengalami kekeringan yakni Desa Srikaton, Rogomulyo, Pesagi, Sundoluhur, Talun, Pasuruan, Sumbersari.
Kecamatan Gabus terdapat 10 desa terdampak kekeringan masing-masing di Desa Gebang, Tlogoayu, Tanjunganom, Plumbungan, Pantirejo, Sambirejo, Bogotanjung, Banjarsari, Karaban, Gabus.
Editor: Ulfa




























