Semarang (lingkarjateng.id) – Ribuan industri kecil dan menengah (IKM) di Kota Semarang masih menghadapi tantangan memperluas pasar.
Di tengah tren pertumbuhan jumlah pelaku usaha, akses ke jaringan pemasaran yang lebih besar menjadi salah satu pekerjaan rumah agar IKM lokal tak sekadar bertahan, tetapi mampu naik kelas.
Dinas Perindustrian Kota Semarang kini mendorong pelaku IKM menembus pasar ritel modern dan jaringan hotel melalui program business matching.
Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang, Arwita Mawarti, mengatakan pihaknya telah memfasilitasi pertemuan pelaku IKM dengan sejumlah calon pembeli. Pada 2026, program tersebut menyasar IKM olahan makanan dan mulai menghasilkan kerja sama pemasaran.
Sejumlah pihak yang terlibat antara lain, Horizon, beberapa hotel lain, serta jaringan ritel Aneka Jaya. “Misalnya bandeng presto dan bawang goreng bisa masuk ke AEON. Jadi, pemasarannya tidak hanya di Semarang, tetapi berpeluang menjangkau AEON di cabang kota lain,” ujar Arwita, Minggu (18/10).
Meski demikian, peluang tersebut belum berarti produk IKM Semarang telah menembus pasar nasional secara luas. Arwita mengakui, pemasaran produk binaan dinas saat ini masih berfokus pada pasar regional dan belum mencapai ekspor.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan pendampingan tidak berhenti pada pelatihan dan fasilitasi, tetapi benar-benar menghasilkan perluasan pasar yang berkelanjutan.
Arwita menyebut, lebih dari 3.000 IKM tercatat di Dinas Perindustrian Kota Semarang. Namun, pelaku usaha tersebut memiliki tingkat kesiapan dan orientasi pengembangan yang berbeda.
Ia mengelompokkan IKM menjadi tiga kategori. Pertama, pelaku usaha yang masih bergantung pada dukungan pemerintah untuk berproduksi. Kedua, pelaku yang cenderung bertahan pada kondisi usaha saat ini. Ketiga, pelaku yang memiliki keinginan untuk berkembang dan naik kelas.
Menurut Arwita, kelompok ketiga menjadi sasaran utama pendampingan karena dinilai lebih aktif mencari peluang usaha dan memperluas pemasaran.
“Kami justru memberikan dukungan kepada IKM yang ingin naik kelas. Kami bantu mencarikan peluang pasar, termasuk mempertemukan mereka dengan buyer melalui program temu bisnis,” katanya.
Pendampingan dilakukan mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pelatihan dan penyediaan sarana-prasarana produksi. Upaya ini menjadi bagian dari program Waras Ekonomi yang dijalankan sejalan dengan arahan Wali Kota Semarang.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pelaku IKM mampu menjaga kualitas, kapasitas produksi, dan konsistensi pasokan ketika memperoleh akses ke pasar yang lebih besar.
Selain memperluas pasar, Dinas Perindustrian meminta pelaku IKM memperkuat identitas produk asal Kota Semarang. Informasi mengenai asal produksi harus dicantumkan pada kemasan agar produk lokal memiliki identitas yang jelas di tengah persaingan dengan produk daerah lain.
Produk yang dikembangkan mencakup batik jumputan hingga aneka makanan olahan khas Semarang, seperti keripik dan sambal pecel.
Arwita menilai, identitas daerah perlu diperkuat karena jenis produk serupa juga diproduksi di berbagai wilayah. Kekhasan rasa dan pencantuman asal produksi diharapkan membantu konsumen mengenali produk IKM Semarang.
Di luar persoalan pemasaran, Pemkot Semarang mulai menyiapkan pendampingan industri hijau bagi IKM pada 2027. Program itu akan menyasar pengelolaan limbah, penggunaan sumber air bersih, dan proses produksi yang memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan.
“Pada 2027, kami akan memberikan pendampingan kepada IKM mengenai bagaimana mengelola limbah, sumber air bersih, dan proses produksinya agar sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan,” jelasnya. (Lingkar Network/Syahril) ***
Editor : Adi Arfian



























