BLORA, Lingkarjateng.id – Rencana pembangunan tiga embung di Kabupaten Blora batal direalisasikan tahun ini. Anggaran bantuan keuangan Pemerintah Provinsi (Bankeuprov) Jawa Tengah sekitar Rp9 miliar untuk proyek tersebut terkena efisiensi atau refocusing.
Dari bankeu tersebut, rencananya pemerintah akan membangun embung di Desa Temulus dan Desa Wulung, Kecamatan Randublatung, serta Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan. Ketiganya diproyeksikan mendukung pengairan 191 hektare lahan pertanian.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya telah mengusulkan ketiga embung tersebut sejak awal tahun. Namun, pada Juni lalu, pihaknya menerima informasi bahwa anggaran untuk proyek itu terkena efisiensi.
“Kami mendapatkan informasi surat dari Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah, anggaran untuk ketiga embung itu kena efisiensi atau refocusing untuk membiayai infrastruktur lainnya,” kata Surat, Senin, 12 Oktober 2026.
Pemkab Blora akan kembali mengupayakan bantuan anggaran untuk rehabilitasi embung tersebut pada 2027 hingga 2028 secara bertahap.
“Karena tahun ini memang usulan kami tidak mendapatkan alokasi anggaran, untuk 2027 secara bertahap sampai nanti 2028 dan selanjutnya akan kami upayakan mendapatkan bantuan tersebut,” jelasnya.
Adapun Embung Temulus diproyeksikan mampu mengairi sekitar 140 hektare sawah. Sementara Embung Wulung mencakup 31 hektare dan Embung Adirejo sekitar 20 hektare lahan pertanian.
Menurut Surat, keberadaan tampungan air sangat penting untuk membantu mengantisipasi kekeringan yang kerap melanda Blora. Air hujan yang tertampung saat musim penghujan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau.
“Dengan banyaknya tampungan air, harapan kami bisa membantu menahan air di musim hujan. Kemudian dapat kita optimalkan di musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang pertanian, air baku, dan juga air bersih,” terangnya.
Surat menjelaskan, saat ini Blora memiliki tiga waduk yang beroperasi, yakni Waduk Randugunting, Waduk Greneng, dan Waduk Tempuran. Selain itu, terdapat 78 embung yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut.
Namun, sebagian besar embung mengalami kekeringan. Bahkan, sejumlah tampungan air telah berada pada level tampungan mati sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Di posisi kritis, posisi tanggap darurat sebenarnya, embung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air irigasi bagi pertanian maupun air baku untuk masyarakat,” terangnya.
Kendati demikian, pemanfaatan air dari tampungan yang tersisa perlu memperhatikan kapasitas efektif embung dan kondisi infrastrukturnya.
Surat menyebut sejumlah embung maupun waduk membutuhkan pemeliharaan serta penguatan konstruksi agar dapat berfungsi optimal.
Ke depan, DPUPR Blora berharap datangnya musim hujan dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan tampungan air. Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam wawancara, musim hujan diperkirakan mulai pada awal November.
Air yang tertampung nantinya diharapkan dapat disalurkan untuk kebutuhan irigasi pertanian, air baku masyarakat, sekaligus membantu mitigasi dan pengendalian banjir.
“Kami prioritaskan supaya nanti bisa mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tampungan-tampungan embung, bendung maupun waduk bisa menampung limpasan air hujan secara maksimal,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa



























