Kab.Semarang (lingkarjateng.id) – Dampak cuaca ekstrem akibat terjadinya fenomena El Nino, memicu lonjakan kasus kebakaran di wilayah Kabupaten Semarang sepanjang bulan September 2026.
Damkar Kabupaten Semarang mencatat tingginya frekuensi insiden kebakaran, terutama yang melanda banyak lahan-lahan kering di berbagai wilayah di Kabupaten Semarang. Sejak Januari hingga bulan Oktober 2026, total ada sebanyak 235 kejadian kebakaran di wilayah setempat.
Berdasarkan data penanganan bencana dari Damkar Kabupaten Semarang, terjadi peningkatan kasus kebakaran yang sangat signifikan selama bulan September, yakni ada 101 kejadian kebakaran dengan paling terbanyak adalah kebakaran lahan.
“Kebakaran lahan mendominasi kejadian kebakaran dengan persebaran kasus terbesar di tiga kecamatan utama di Kabupaten Semarang,” kata Anang Sukoco, Kepala Satpol PP dan Damkar (Poldam) Kabupaten Semarang saat dikonfirmasi, Minggu (11/10).
Lebih rinci, Anang Sukoco mengungkapkan bahwa Kecamatan Ungaran Timur menjadi wilayah terbesar yang mencatatkan kejadian kebakaran tertinggi dengan 36 kasus, disusul Kecamatan Bawen sebanyak 25 kasus, dan Kecamatan Tengaran sebanyak 22 kasus.
“Di Kecamatan Ungaran Timur total kejadian kebakaran ada 36 kasus, dengan rincian kebakaran rumah mencapai enam kejadian, kebakaran lahan 23 kejadian, kebakaran perusahaan satu kejadian, dan lainnya ada enam kejadian kebakaran,” ungkapnya.
Sedangkan untuk Kecamatan Bawen total ada 25 kejadian, rinciannya sebagai berikut yaitu kejadian kebakaran rumah nol kejadian, kebakaran lahan ada 18 kejadian, kebakaran perusahaan ada dua kejadian, dan lainnya ada lima kejadian kebakaran.
Selanjutnya, adalah Kecamatan Tengaran dengan total ada 22 kasus kebakaran terjadi sepanjang tahun 2026 ini, yaitu kebakaran rumah 7 kejadian, lalu kejadian kebakaran lahan total ada 8 kejadian, dan kebakaran rumah 3 kejadian, serta kebakaran lainnya tercatat 4 kejadian.
Menurut Anang Sukoco, selain faktor alam seperti kemarau panjang dan cuaca panas terik, kelalaian manusia (human error, red) juga menjadi pemicu utama banyaknya terjadi kebakaran lahan di Kabupaten Semarang.
“Dampaknya luar biasa untuk kebakaran di Kabupaten Semarang. El Nino sudah sangat kelihatan sekali, ada peningkatan kebakaran yang luar biasa. Selain El Nino, faktor utamanya juga dari SDM-nya sendiri,” tuturnya.
Dalam upaya pemadaman, dia membeberkan tantangan utama yang dihadapi di lapangan, yakni keterbatasan pasokan air yang diakibatkan terjadinya kekeringan di mana-mana di Kabupaten Semarang. Saban hari, petugas merespons rata-rata 5-7 laporan kejadian kebakaran.
Untuk mengatasinya, Damkar Kabupaten Semarang menyiagakan 7 posko pemadam kebakaran selama 24 jam penuh di sejumlah titik di Kabupaten Semarang. Jika pasokan air di satu wilayah minim, maka posko dari kecamatan terdekat dikerahkan untuk saling memperkuat.
“Masalah utama tentu air, karena kekeringan banyak daerah yang butuh air, jadi kita harus pandai-pandai mencari pasokan air. Masyarakat tidak mau tahu, kalau ada kebakaran kita harus siap,” bebernya.
“Solusinya jelas, 7 posko damkar ini kita siagakan semua. Kalau di satu posko pasokan airnya belum maksimal, posko lain langsung merapat,” imbuhnya.
Anang juga menyoroti kendala teknis pada fasilitas hidran di lapangan. Beberapa titik hidran pasokan air milik PDAM tidak dapat difungsikan secara optimal, akibat tertutup proyek pelebaran jalan. (Lingkar Network/Hesty)***
Editor : Adi Arfian































