Blora (lingkarjateng.id) – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan SPPG Polres Blora 1 tidak langsung dibagikan ke siswa atau penerima manfaat. Sebelum didistribusikan, menu makanan lebih dulu diperiksa untuk memastikan aman dikonsumsi.
Pemeriksaan dilakukan Tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polres Blora. Pemeriksaan mencakup bahan makanan mentah, makanan yang sudah diolah, hingga makanan yang siap dibagikan.
Kepala SPPG Polres Blora 1, Denny Daniswara, mengatakan pemeriksaan dilakukan setiap hari melalui beberapa tahapan, sebelum didistribusikan. Salah satunya pemeriksaan kimia untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahan berbahaya dalam makanan, seperti formalin.
“Selain pemeriksaan kimia, ada pemeriksaan organoleptik dan mikrobiologi. Jadi makanan diperiksa dari berbagai aspek sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat,” kata Denny, Sabtu (26/09/2026).
Pemeriksaan organoleptik dilakukan dengan melihat kondisi makanan secara langsung, mulai dari warna, aroma, rasa, tekstur, hingga bentuk. Pemeriksaan ini untuk memastikan makanan dalam kondisi layak dan sesuai standar.
Sementara pemeriksaan mikrobiologi dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri maupun mikroorganisme lain yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Untuk pemeriksaan kimia secara berkala, sampel makanan juga diperiksa melalui laboratorium. Hasil pengujian tersebut dapat diketahui sekitar satu minggu.
“Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan makanan mentah, makanan yang telah diolah, hingga makanan yang siap didistribusikan,” ujarnya.
Selain memastikan keamanan pangan, sambung Denny, SPPG Polres Blora 1 juga menghitung kandungan gizi setiap menu yang disiapkan kepada siswa.
Perhitungan mencakup energi, protein, lemak, karbohidrat, dan serat. Kandungan tersebut disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), baik untuk porsi kecil maupun porsi besar.
Denny mengatakan menu MBG disiapkan menggunakan sistem menu cycle. Menu telah dirancang untuk satu pekan dengan variasi makanan yang berbeda agar penerima manfaat tidak mendapatkan menu yang sama secara terus-menerus.
“Menu yang kami siapkan sudah dihitung kandungan gizinya, baik untuk porsi kecil maupun porsi besar. Menu juga sudah disiapkan untuk seminggu ke depan dengan memperhatikan menu cycle dan variasi makanan yang berbeda setiap pekannya,” jelasnya.
SPPG Polres Blora 1 mulai beroperasi pada 13 Oktober 2025. Saat ini, layanan tersebut menyalurkan MBG kepada 2.390 penerima manfaat di 18 sekolah.
Setiap hari, sekitar 1.800 porsi besar dan 590 porsi kecil disiapkan untuk penerima manfaat mulai jenjang PAUD, TK, SMK hingga B3 di Desa Ngampon, Jomblang, Seso, dan Brumbung.
Salah satu menu yang disajikan pada Senin (21/9) yakni nasi putih, ayam goreng Kalasan, tumis tahu tempe cabai hijau, capcay, dan jeruk.
Untuk porsi kecil, menu tersebut mengandung 405,6 kilokalori (kkal) atau 101 persen AKG, protein 18,5 gram, lemak 14 gram, karbohidrat 52,1 gram, dan serat 3,6 gram.
Sedangkan porsi besar mengandung 632,1 kkal atau 101 persen AKG, dengan protein 28,9 gram, lemak 21,2 gram, karbohidrat 82,4 gram, dan serat 5,3 gram.
Pada Selasa (22/9), menu MBG berupa nasi putih, telur dadar loncang, kering tempe, tumis buncis putren, dan buah naga.
Porsi kecil mengandung 421,1 kkal atau 105 persen AKG, protein 16 gram, lemak 16 gram, karbohidrat 53,4 gram, dan serat 1,7 gram.
Adapun porsi besar mengandung 652,5 kkal atau 104 persen AKG, protein 26,3 gram, lemak 23,5 gram, karbohidrat 84,3 gram, dan serat 2,3 gram.
Sementara menu Jumat (25/9) terdiri atas nasi putih, telur curry, tahu teriyaki, pokcoy bakso, melon, dan susu UHT.
Porsi kecil menu tersebut mengandung 468,8 kkal atau 117 persen AKG, protein 18,1 gram, lemak 20,6 gram, karbohidrat 52,6 gram, dan serat 1,4 gram.
Untuk porsi besar, kandungan energinya mencapai 643,3 kkal atau 103 persen AKG. Kandungan lainnya yakni protein 25,3 gram, lemak 24,5 gram, karbohidrat 79,6 gram, dan serat 2,2 gram.
Denny menegaskan perhitungan tersebut dilakukan untuk memastikan MBG yang disalurkan tidak hanya memenuhi kebutuhan jumlah porsi, tetapi juga memiliki komposisi gizi yang terukur.
“Setiap menu sudah kami hitung kandungan gizinya, sehingga asupan yang diterima penerima manfaat dapat terukur,” katanya.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Adi Arfian






























