Semarang (lingkarjateng.id) – Ratusan umat Tri Dharma dari berbagai penjuru kota hingga luar Kota Semarang berkumpul di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Low Lie Bio atau yang lebih dikenal dengan sebutan Klenteng Kebon Jeruk, di Jalan Rorojonggrang Timur XIII Nomor 10, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.
Mereka bersatu dalam satu tekad mulia, memanjatkan doa bersama untuk perdamaian dunia, dan mengharap berakhirnya konflik bersenjata yang tengah berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Acara doa bersama tersebut digelar bersamaan dalam rangkaian kegiatan memperingati perayaan Yang Suci Kwan Se Im Po Sat, yang dipimpin langsung oleh Pandita Dhamma Amaro.
Sejak sore hari, para umat sudah berdatangan satu per satu untuk melaksanakan ibadah dan sembahyang, sebelum akhirnya puncak doa bersama dilangsungkan pada malam hari dengan dihadiri tidak kurang dari 200 umat.
Ketua Yayasan, Indra Satyahadinata, menegaskan bahwa seluruh umat Tri Dharma dengan tulus berharap agar peperangan di belahan dunia mana pun dapat segera diakhiri.
Menurutnya, tidak ada satu pun pihak yang menginginkan perang terus berlanjut dan memakan lebih banyak korban.
“Kita berharap supaya peperangan di mana pun berada, di belahan dunia mana pun, kita tidak menginginkan itu terjadi. Perang yang sudah terjadi, kalau bisa diakhiri saja,” tegasnya, Minggu (5/5).
Umat Tri Dharma juga memanjatkan harapan agar Bangsa Indonesia senantiasa terjaga dari dampak konflik internasional yang kian meluas, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan maupun perekonomian global.
“Kita tetap menginginkan negara dan bangsa kita ini menjadi bangsa yang makmur, yang adil, yang aman, damai, apalagi negara kita itu sebetulnya negara kaya raya,” tutur Indra.
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, momentum peringatan kelahiran Yang Suci Kwan Se Im Po Sat ini juga menjadi sarana refleksi dan pengingat bagi seluruh umat untuk meneladani sifat welas asih yang menjadi inti ajaran Kwan Se Im Po Sat.
Indra berharap nilai-nilai luhur tersebut dapat benar-benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh umat Tri Dharma.
“Hidup tidak untuk diri sendiri. Kita bisa berbagi kepada orang lain, bisa berbagi kasih atau berbagi apapun yang bisa kita bagikan kepada yang lain. Jadi kita punya harapan umat Dharma bisa seperti itu,” tuturnya.***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Fian

























