Blora (lingkarjateng.id) – Memasuki masa panen tahun ini, hasil produksi tanaman padi merosot. Akibatnya petani di kawasan Blora selatan alami kerugian cukup besar.
Menurunnya hasil panen kali ini dipengaruhi oleh cuaca ekstrem yang terjadi selama masa tanam berlangsung.
Petani asal Kelurahan Randublatung, Sanon, mengungkapkan, jika hujan yang turun tidak menentu membuat tanaman padi pertumbuhannya menjadi tidak maksimal.
“Dua kali mengalami kekeringan. Pertama setelah tanam tidak turun hujan, dan yang kedua menjelang tanaman padi berbunga,” ujarnya, Kamis (19/2).
Kondisi tersebut membuat padi tidak mampu menghasilkan bulir buah yang lebat dan tidak mampu memiliki bobot yang bagus, sehingga dipastikan hasil panen merosot hingga separuh lebih.
“Penurunan mencapai 50% dibandingkan dengan hasil panen tahun-tahun sebelumnya. Sehingga dipastikan untuk tahun ini sejumlah petani mengalami kerugian cukup besar,” terangnya.
Sonon menjelaskan, untuk harga jual sebenarnya dalam kondisi bagus yang berpotensi membuat petani mendapatkan keuntungan. Namun, karena hasilnya menurun, sehingga mimpi untuk mendapatkan hasil yang melimpah hanya isapan jempol belaka.
“Saat ini harga jual menyentuh Rp 6.400,- per kg. Mestinya bisa untung, tapi karena hasil merosot ya malah rugi,” ujarnya.
Berbeda halnya dengan pengakuan petani asal dukuh Balongkare, Desa Pilang, Blora, Mandan. Menurutnya, akibat cuaca ekstrem bahkan tanaman pada milik beberapa petani mati.
“Waktu itu karena kering tidak ada air, kemudian dilakukan penyemprotan guna mengurangi gulma, tetapi malah banyak yang mati,” pungkasnya.***
Jurnalis : Hanafi
Editor : Fian






























