KUDUS, Lingkarjateng.id – Pemantauan hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Kudus menunjukkan hasil yang menarik.
Berdasarkan rekapitulasi data hisab dan hasil rukyat di Laboratorium Olimpiade Sains Terpadu MAN 2 Kudus, Selasa, 17 Februari 2026 petang, hilal dipastikan tidak terlihat karena posisinya masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Ijtima’ terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 pukul 19.02.01 WIB. Sementara itu, matahari terbenam lebih dahulu pada pukul 18.01.00 WIB.
Data hisab menunjukkan tinggi hilal berada pada minus 2 derajat 2 menit 17 detik, dengan elongasi hanya 1 derajat 10 menit 50 detik dan cahaya hilal sebesar 0,014 persen.
Posisi tersebut masih jauh dari kriteria baru MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Tim rukyat dari Kementerian Agama Kabupaten Kudus melakukan pemantauan di lantai 4 dan 5 MAN 2 Kudus menggunakan alat teodolit, kompas, serta perhitungan terintegrasi melalui aplikasi digital dan kalkulator.
Proses pengamatan berlangsung sekitar 30 menit dengan kondisi cuaca cerah.
Tim Ahli Falakiyah Kemenag Kudus, Saifudin Zahro, menjelaskan bahwa secara hisab posisi hilal memang belum memungkinkan untuk dirukyat.
“Pemantauan sore ini kita lakukan di MAN 2 Kudus, namun hilal tidak terlihat karena posisinya masih di bawah ufuk, sekitar minus dua derajat. Kriteria imkan rukyat mensyaratkan tinggi minimal tiga derajat, sehingga secara perhitungan memang belum memenuhi,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil pemantauan tersebut akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan dalam sidang isbat nasional.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Shony Wardana, menyampaikan bahwa dari sembilan perukyat resmi yang bertugas di MAN 2 Kudus, tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal.
“Hingga saat ini belum ada perukyat yang melihat hilal. Karena secara hisab juga berada di bawah ufuk, maka awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Hasil ini, kata Shony, akan kami laporkan ke pusat dan menjadi bagian dari sidang isbat nasional bersama 96 titik pemantauan se-Indonesia.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Sekar S





























