Rembang (lingkarjateng.id) – Keberadaan Jangkar Dampo Awang di kawasan Taman Kartini Kabupaten Rembang tidak hanya dikenal sebagai ikon sejarah, namun juga diselimuti cerita mistis yang hingga kini masih ada di tengah kehidupan masyarakat.
Salah satu tokoh budayawan Rembang, Didik Kurdiantoro, mengungkapkan bahwa jangkar berukuran besar tersebut sejak lama dikaitkan dengan mitos tertentu.
Salah satu cerita yang berkembang menyebut, siapa pun yang berani merusak atau mengambil bagian besi dari jangkar itu diyakini akan mendatangkan badai atau bencana bagi wilayah Rembang.
“Cerita itu sudah lama beredar. Katanya kalau ada yang menggergaji atau mengambil bagian dari jangkar, Rembang bisa dilanda badai,” kata Didik pada Sabtu (14/2/2026).
Menurut Didik, mitos itu tumbuh dari tradisi lisan masyarakat pesisir yang sangat dekat dengan kehidupan laut. Badai bagi warga pesisir bukan fenomena alam biasa, melainkan ancaman nyata yang bisa berdampak besar terhadap kehidupan nelayan.
Selain itu, unsur spiritual juga melekat pada sejarah pemindahan jangkar tersebut. Saat dipindahkan dari kawasan pesisir ke Taman Kartini, prosesnya dilakukan secara manual oleh puluhan orang dan didahului dengan ritual selamatan atau bancaan.
“Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan sekaligus penghormatan terhadap benda bersejarah,” jelasnya.
Didik menilai, kepercayaan terhadap unsur mistis kembali pada pandangan masing-masing individu. Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa mitos tersebut pernah terbukti.
“Soal mistis itu tergantung keyakinan masing-masing. Tapi ceritanya memang hidup di masyarakat,” jelasnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos yang beredar, Jangkar Dampo Awang tetap menjadi bagian dari identitas budaya di Kabupaten Rembang.
Cerita-cerita yang menyertainya memperkuat posisi jangkar tersebut tidak hanya sebagai benda bersejarah, tetapi juga simbol yang dihormati dan dijaga oleh masyarakat.***
Editor : Fian































