GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi senjata utama pemerintah dalam menanggulangi masalah malnutrisi dan menurunkan prevalensi stunting nasional hingga di bawah 15 persen.
Hal itu disampaikan Edy saat sosialisasi MBG Tahun Anggaran 2026 bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Gedung Dewi Sri Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Senin, 2 Februari 2026.
Edy menyatakan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
Oleh karena itu, pihaknya bersama pemerintah menetapkan MBG sebagai salah satu program strategis nasional.
“Ini bukan hanya soal makan gratis. Ini adalah intervensi negara untuk menyelamatkan generasi masa depan. Kalau gizinya buruk, maka kecerdasannya juga terganggu,” katanya.
Ia menjelaskan, program MBG menyasar kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak usia sekolah. Kelompok tersebut dinilai memiliki peran krusial dalam menentukan tingkat kesehatan dan kecerdasan generasi berikutnya.
Menurut Edy, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap upaya percepatan penurunan stunting melalui penguatan intervensi gizi sejak usia dini.
Ia menyebut pemerintah menargetkan angka stunting nasional dapat ditekan hingga di bawah 15 persen.
“Presiden ingin stunting ini benar-benar ditekan. Target di bawah 15 persen itu bukan sekadar angka, tapi ukuran keberhasilan negara melindungi anak-anaknya,” ujarnya.
Meski demikian, Edy menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah pusat.
Ia menilai sinergi dan kesamaan pemahaman antara pemerintah daerah, pelaksana program, serta masyarakat menjadi kunci agar pelaksanaan MBG berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Sosialisasi ini penting agar tidak ada salah tafsir. Program ini harus sampai ke mereka yang benar-benar membutuhkan dan dijalankan dengan kualitas gizi yang terjaga,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid






























