PATI, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat peningkatan kasus leptospirosis di sejumlah wilayah yang terdampak banjir pada awal tahun 2026. Sebanyak 35 warga dilaporkan terjangkit penyakit tersebut, dengan empat orang di antaranya meninggal dunia.
Ketua Tim Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular P2PM Dinkes Pati, Yanti, mengungkapkan kasus leptospirosis tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Juwana, Jaken, dan Margoyoso, dengan kelompok usia lanjut menjadi yang paling rentan terdampak.
Selain itu, penyebaran penyakit juga ditemukan di Kecamatan Trangkil, Dukuhseti, Batangan, dan Wedarijaksa.
Yanti menyebut kejadian serupa juga tercatat pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2025, terdapat 61 kasus leptospirosis dengan 17 kasus kematian, dengan jumlah tertinggi terjadi pada Februari hingga Maret 2025.
Leptospirosis sendiri merupakan penyakit akibat infeksi bakteri leptospira yang ditularkan melalui air kencing atau darah hewan, seperti tikus, anjing, babi, kucing, sapi, kambing, dan kuda.
Bakteri tersebut mencemari tanah dan air, serta umumnya berkembang di wilayah tropis saat terjadi banjir.
Bakteri leptospira diketahui mampu bertahan hidup selama tiga hingga enam bulan, dan dapat bertahan lebih lama apabila berada di genangan air banjir.
Penderita leptospirosis biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, tubuh lemas, hingga kulit menguning.
Pada kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan gagal ginjal akut yang berujung kematian.
“Ini penyakit yang perlu diwaspadai, apalagi pascabanjir,” kata Yanti, Sabtu, 31 Januari 2026.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya telah melakukan pemberian disinfektan berbahan deterjen ramah lingkungan pada genangan air pasca banjir untuk membunuh bakteri leptospira.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk segera melakukan penanganan sejak dini dengan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan antibiotik apabila mengalami gejala awal leptospirosis.
Warga juga diminta menjaga kebersihan lingkungan dengan menggunakan alat pelindung diri saat berada di genangan banjir, menutup luka terbuka, mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun, serta memastikan makanan dan lingkungan sekitar tetap bersih.
“Kita sudah melaksanakan pemberitahuan kepada petugas puskesmas agar memberikan disinfektan berupa sabun boom (deterjen) ke genangan air pasca banjir, terus rumah itu dipel pakai sabun boom,” ujarnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Rosyid





























