Pekalongan (lingkarjateng.id) – Bencana longsor bibir di Sungai Kupang, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, pada Jumat (23/1) siang, menyeret rumah dan halaman warga yang ada di dekat sungai.
Rumah yang terdampak paling parah yakni milik Yasin (53) yang juga perangkat Desa Krompeng. Halaman rumahnya merekah, tanahnya seperti retak dan turun 10 cm. Begitu juga beton dinding bangunan rumah retak, lantai keramik pecah dan turun.
Yasin mengungkapkan sebelum longsor terjadi retakan lantai keramik terlihat bak sehalai rambut. Kondisi itu sudah terjadi sejak Selasa (20/2) lalu.
“Sejak seminggu hujan terus menerus. La pada hari Selasa, dikira istri saya kotoran rambut di keramik, ternyata keramik mulai retak selebar rambut,” ungkapnya saat ditemui wartawan, Sabtu (24/1/2026).
Kemudian hujan terjadi terus menerus. Halaman rumahnya juga mulai retak-retak. Air yang mengalir tidak langsung mengalir ke sungai. Ya, rumahnya memang tidak jauh dari Sungai Kupang. Rumahnya berada di atas. Sedangkan sungainya di bawah, sekitar 10 meter.
“Air tidak langsung ke sungai, tapi kok meresap ke retakan tanah di halaman ini. Semakin lama semakin membesar karena hujan besar,” ungkapnya.
Pada Jumat (23/1) pagi, rekahan tanah di halaman rumah kian melebar. Bahkan ada beberapa titik memanjang. “Saya menyadari saat ulang salat Subuh. Kok retakan bertambah terus menganga. Saya berpikiran jelek, jangan-jangan longsor nanti,” kata Yasin.
Benar adanya, Jumat siang usai salat Jumat, terjadi tanah bergerak. Pohon bawang setinggi hampir 8 meter, langsung bergerak ke arah sungai. Demikian juga pohon petai. Gerakan pohon dengan teriakan histeris warga pada Jumat siang kemarin, kemudian viral di sosial media.
“Itu yang kemudian viral. Pohon apa kalau sini namanya pohon bawang ya yang mangga tapi yang besar itu kan tadinya di sini, tiba-tiba bergeser sama pohon petai itu, sejauh hampir 10 meter, terus terjatuh ke sungai,” katanya .
Warga yang berada di lokasi saat itu panik, termasuk dirinya dan istri. “Suasana panik, saya langsung ajak istri dan anak-anak untuk segera keluar dari rumah, bawa surat-surat penting. Barang-barang lain ga terpikir, karena rumah juga amblas,” kata Yasin.

“Pohon-pohon sama tanah yang di sebelah rumah, langsung bergeser ke arah bawah dan hanyut , runtuh ke bawah,” tambahnya.
Kini, kondisi rumahnya mengalami penurunan hingga 10 cm. Ini yang membuat dinding retak dan lantai rumah pecah.
“Turun sekitar 10 cm di ruang tamu. Bisa dilihat, dinding juga retak. Ini sudah tidak bisa ditempati. Apalagi hujan terus terjadi. Pintu rumah saja, awalnya tidak bisa dibuka karena penurunan ini. Terpaksa dibongkar untuk evakuasi barang-barang,” jelasnya.
Rumah yang ditempati sudah sejak turun-temurun ini, kini dikosongkan. Tidak hanya Yasin, namun ada lima rumah lainnya yang berada di dekat Sungai Kupang, saat ini dikosongkan. Mereka mengungsi ke tempat tetangga yang jauh lebih aman.
Sabtu (24/1) siang, nampak sejumlah warga setempat mengamankan barang-barang lainnya, termasuk meja dan kursi. “Kita evakuasi, rumah memang sudah tidak layak dan membahayakan,” kata Yanto.
Sementara itu, di lokasi yang sama, Kepala Desa Krompeng, Nasrudin, mengungkapkan, ada enam rumah terdampak, akibat longsor dan tanah bergerak tersebut.
“Rumah terdampak ada sekitar enam rumah. Penghuninya alhamdulillah selamat, total mengungsi ada 17 jiwa,” katanya. Pemerintah Desa Krompeng terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan untuk melakukan pendataan lebih lanjut dan penyaluran bantuan darurat.***
































