PATI, Lingkarjateng.id – Meskipun curah hujan di Kabupaten Pati cukup tinggi dalam lima hari terakhir sampai menyebabkan bencana hidrometeorologi khususnya banjir, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Lutfi belum berencana melakukan rekayasa atau modifikasi cuaca.
Hal itu ia sampaikan di sela-sela kunjungannya saat meninjau banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, pada Selasa, 13 Januari 2026.
Lutfi mengatakan, alasan pihaknya belum akan melakukan rekayasa cuaca karena cuaca ekstrem terjadi tidak hanya di wilayah Muria Raya, tetapi hampir diseluruh wilayah di Indonesia mengalami hal serupa.
“Belum ada, rekayasa itu BPBD. Kita harus lapor ke pusat terkait rekayasa, ini tidak hanya di Jawa Tengah,” kata Lutfi.
Selain itu, Luthfi juga belum berencana menetapkan status darurat kebencanaan di Jawa Tengah meskipun 13 kecamatan dan 48 desa di Kabupaten Pati terdampak bencana banjir hingga tanah longsor.
Pihaknya bersama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati optimis bisa menangani warga yang terdampak bencana sehingga dirasa belum bisa ditegakkan tanggap darurat kebencanaan.
“Belum ada penetapan darurat bencana. Ditetapkan kalau daerah itu mengganggu aktivitas warga, selama ini bisa kita atasi. Bahkan tidak ada masyarakat yang mengungsi,” imbuhnya.
Ia juga berpesan kepada Pemkab Pati untuk memastikan bantuan logistik kepada para warga terdampak banjir tetap disalurkan. Penanganan pasca banjir juga diharapkan bisa cepat dilakukan guna pemulihan aktivitas masyarakat.
“Kebutuhan pokok kita salurkan, jangan sampai tidak bisa melakukan aktivitas terutama anak-anak sekolah,” tandasnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Rosyid






























