KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, resmi dihentikan sementara menyusul dugaan keracunan yang menimpa 20 siswa.
Keputusan ini diambil setelah sejumlah wali murid menolak menerima kembali MBG, terutama yang dipasok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidomulyo, Ungaran Timur, karena trauma atas insiden yang terjadi.
Sebagian siswa yang terdampak mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan program MBG. Bahkan, hingga Kamis, 2 Oktober 2025, dua di antaranya masih dirawat di rumah sakit.
“Banyak usulan ya, tapi banyak juga orang tua yang menolak menu MBG kalau dari SPPG yang sama, yang membuat anak-anak kami dalam kondisi yang tidak baik usai makan menu MBG kemarin. Selain itu, banyak wali murid juga yang menuntut keras SPPG yang bersangkutan untuk bisa memperbaiki pelayanannya,” ujar Setiyasih, salah satu wali murid kelas 6 SDN Ungaran 01.
Menurutnya, belum adanya klarifikasi dari pihak SPPG Sidomulyo turut memperbesar keresahan.
“Meski per hari Rabu kemarin tidak ada kiriman MBG di sekolah anak-anak kami ini, tapi sebagai wali murid jelas kami trauma,” ujarnya.
Setiyasih berharap mutu makanan dalam program MBG dapat ditingkatkan oleh semua dapur SPPG agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Ketua Komite SDN 1 Ungaran, Bambang Munthoha, menyatakan rapat bersama wali murid digelar untuk menindaklanjuti insiden dugaan keracunan sekaligus menyepakati penghentian sementara distribusi MBG hingga hasil investigasi dan uji laboratorium keluar.
“Memang tadi ditegaskan harus ada perbaikan pelayanan MBG di seluruh SPPG, terkhusus untuk SPPG di Sidomulyo itu,” jelasnya.
Komite juga mengusulkan adanya survei resmi melalui surat edaran kepada wali murid untuk mengetahui apakah mereka bersedia melanjutkan program MBG atau tidak, khususnya bila tetap dikelola oleh SPPG Sidomulyo.
“Tadi banyak juga di antaranya orang tua yang menuntut serta memberi toleransi untuk MBG di sekolah anak-anak kami ini bisa tetap dijalankan, namun catatannya ialah dengan SPPG yang berbeda, tidak pakai SPPG Happy lagi. Namun, untuk hal ini tentu kami tidak bisa menjawab karena ada pihak dan instansi yang memiliki ranah untuk menjawab hal tersebut, termasuk adanya surat edaran itu,” tambah Bambang.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Ungaran, Irmayani, menyatakan pihak sekolah tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan kelanjutan distribusi MBG secara sepihak.
“Termasuk komplain juga ada tadi di rapat selain usulan-usulan dari para wali murid dari siswa dan siswi kami. Tapi, dari banyaknya usulan itu, kami dari sekolah jelas tidak bisa memutuskannya sendiri, kami tidak punya wewenang itu,” tegas Irmayani.
Pihaknya kini menunggu hasil investigasi dan rekomendasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum mengambil langkah lanjutan.
Koordinator Kecamatan SPPG Ungaran Timur, Aldo Purnomo, mengungkapkan bahwa pihaknya sebelumnya telah memberikan peringatan kepada pengelola dapur SPPG Sidomulyo agar meningkatkan mutu MBG.
“Peringatan itu sudah muncul sekitar dua minggu lalu sebelum adanya kejadian dugaan keracunan MBG ini di SDN 1 Ungaran,” kata Aldo.
Menurutnya, seluruh keluhan dari wali murid telah disampaikan kepada pihak dapur, namun insiden keracunan tetap terjadi. Kini, operasional dapur SPPG Sidomulyo dihentikan sementara sembari menunggu hasil laboratorium atas sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan.
“Dan kami memastikan jika mutu makanan MBG yang disediakan itu tidak sesuai standar, maka akan diberikan surat rekomendasi berjenjang sampai ke BGN berupa sanksi sampai dengan penghentian operasional secara penuh,” tegasnya.
Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, yang turut hadir dalam rapat evaluasi, menegaskan bahwa program MBG adalah bagian dari misi kemanusiaan dan harus dikelola secara profesional sesuai prosedur.
“Program ini bukan hanya bisnis semata, namun juga kegiatan kemanusiaan dengan cara menyediakan makan bergizi bagi generasi penerus Indonesia Emas 2045,” ujar Nur Arifah.
Ia juga meminta agar kepala sekolah dan guru turut aktif dalam pengawasan MBG di sekolah masing-masing.
“Dan jangan lupa periksa makanan terlebih dulu, dan apabila menu itu tidak sesuai atau ada aroma yang kurang sedap, maka harus segera menghubungi Kepala SPPG masing-masing untuk minta ganti makanan,” pungkasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid






























