GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Kabupaten Grobogan krisis regenerasi petani. Hingga kini, petani didominasi warga berusia lanjut dengan rata-rata usia diatas 50 tahun.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Kukuh Prasetyo, mengakui bahwa untuk menarik minat generasi muda terjun ke dunia pertanian bukan hal mudah. Menurutnya perlu strategi khusus agar pertanian terlihat lebih modern, menjanjikan, dan sesuai dengan gaya hidup anak muda.
“Menarik petani milenial memang butuh effort (usaha) tinggi. Saat ini, rata-rata petani di Grobogan sudah berusia 50-an tahun. Sementara generasi muda masih banyak yang belum melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan,” jelas Kukuh, Kamis, 24 Juli 2025.
Dispertan Grobogan kini mengembangkan pertanian modern berbasis greenhouse, khususnya komoditas melon premium, untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.
Kukuh menilai system greenhouse lebih cocok dengan karakter generasi muda yang akrab dengan teknologi dan menginginkan hasil cepat. Adapun rata-rata greenhouse di Grobogan hanya membutuhkan lahan sekitar 300 meter persegi, walau begitu potensi keuntungannya cukup besar.
“Dari lahan seluas 300 meter persegi, satu greenhouse melon bisa menghasilkan omzet sekitar Rp40 juta per panen. Laba bersihnya minimal Rp20 juta. Panennya pun bisa sampai empat kali setahun,” ungkapnya.
Varietas melon yang dikembangkan di greenhouse diantaranya sweetnet, lavender, dan sweet hummi asal Jepang. Permintaan pasar melon premium ini juga terus tumbuh, seiring meningkatnya minat konsumen terhadap buah berkualitas tinggi.
Dia menyampaikan tantangan regenerasi petani harus segera diatasi. Jika tidak, sektor pertanian di Grobogan terancam kekurangan tenaga kerja produktif di masa depan.
Untuk mengupayakan hal tersebut, Dispertan rutin menggelar pelatihan, pendampingan, dan kemudahan akses bantuan sarana produksi bagi pemuda yang berminat mengembangkan usaha pertanian modern. Upaya ini diharapkan dapat mematahkan stigma lama bahwa bertani hanya identik dengan kerja kasar mencangkul di sawah.
“Pertanian sekarang sudah berbeda. Banyak teknologi yang bisa diterapkan, mulai dari sistem irigasi otomatis, kontrol suhu, hingga pemasaran digital. Greenhouse adalah salah satu pintu masuknya,” tuturnya.
Sejumlah praktisi pertanian di Grobogan, kata Kukuh, menilai jika didukung serius maka pertanian modern bisa membuka peluang kerja baru bagi generasi muda desa. Selain meningkatkan pendapatan, pola bertani greenhouse juga mendukung efisiensi lahan dan ketahanan pangan.
Pihaknya juga berharap Pemerintah Kabupaten Grobogan terus memperluas akses modal, pelatihan kewirausahaan, serta memperkuat kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan swasta. Dengan begitu petani muda dapat bertambah setiap tahun, ketahanan pangan terjaga, dan pertanian sebagai sektor usaha yang menguntungkan.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa
































