BLORA, Lingkarjateng.id – Sebanyak empat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Blora menerima bantuan tematik budidaya lele sistem bioflok dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.
Penyuluh Perikanan KKP Kabupaten Blora, Ani Nurhalimah, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari program nasional yang menyasar 100 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di berbagai daerah.
Dari total 100 titik penerima, Kabupaten Blora memperoleh empat lokasi bantuan, yakni KKMP Kunden dan KKMP Kamolan di Kecamatan Blora Kota, KDMP Kentong di Kecamatan Cepu, serta KDMP Sambongrejo di Kecamatan Ngawen.
“Alhamdulillah, ada empat koperasi di Kabupaten Blora yang mendapatkan bantuan ini. Program ini merupakan bagian dari prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis koperasi,” ujar Ani di Blora, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menjelaskan, setiap koperasi menerima tiga paket bantuan budidaya lele sistem bioflok. Dalam satu paket terdapat delapan kolam bulat berdiameter sekitar empat meter, sehingga total kolam yang diterima masing-masing koperasi mencapai 24 unit.
Selain kolam, bantuan juga mencakup sarana dan prasarana pendukung, seperti blower untuk aerasi, pompa air, genset cadangan listrik, serta rumah instalasi.
Sistem bioflok membutuhkan suplai oksigen yang stabil karena menerapkan kepadatan tebar ikan yang tinggi.
Untuk komoditas budidaya, koperasi diberikan pilihan antara ikan lele dan nila. Namun, seluruh koperasi penerima di Blora memilih lele.
Ani menyebut dalam satu paket bantuan disalurkan 20 ribu ekor benih, sehingga total benih untuk tiga paket mencapai 60 ribu ekor. Setiap kolam diisi sekitar 2.500 ekor benih lele berukuran minimal enam sentimeter.
“Bantuan juga mencakup pakan awal dan lanjutan dengan total sekitar 5,5 ton, mulai dari pakan PF-1000 hingga pakan lanjutan yang disesuaikan dengan pertumbuhan ikan,” katanya.
Menurut Ani, teknologi bioflok mampu meningkatkan efisiensi produksi dengan menekan kebutuhan pakan. Rasio konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) pada sistem ini dapat ditekan hingga sekitar 0,8:1, lebih rendah dibandingkan metode konvensional yang umumnya 1:1.
“Melalui program tersebut, diharapkan koperasi dapat mengembangkan usaha perikanan sebagai unit usaha produktif sekaligus mendukung pasokan bahan pangan bergizi, bagi masyarakat melalui kerja sama dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi),” ujarnya.
Budidaya Lele Diharapkan Bisa Pasok Program MBG
Sementara itu, Bupati Blora, Arief Rohman, menyebut program tersebut merupakan bantuan dari Menteri Kelautan dan Perikanan yang diharapkan menjadi unit usaha baru bagi KKMP. Untuk wilayah desa, program serupa dijalankan melalui KDMP.
Arief berharap hasil panen lele dari unit budidaya tersebut dapat memasok kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kunden dan sekitarnya.
Ke depan, ia menyebut Pemkab Blora akan mengupayakan pengajuan bantuan serupa kepada pemerintah pusat untuk diterapkan di kecamatan lain agar manfaat program semakin luas.
“Sebelumnya sudah ada bantuan untuk ayam dan telur, kini dilengkapi dengan budidaya lele. Terima kasih kepada Menteri KKP atas dukungan dan program yang telah diberikan,” katanya.
Diketahui, total anggaran bantuan tematik budidaya lele sistem bioflok tersebut mencapai Rp600 juta.
Dana digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang mampu menampung 24 kolam berdiameter empat meter. Dengan tiga paket bantuan, unit budidaya tersebut dapat menampung 60 ribu ekor benih dan ditargetkan panen dalam waktu tiga bulan.
KKMP Kunden Bersyukur Terima Bantuan Paket Budidaya Lele
Ketua KKMP Kunden, Rohmah Yuli Fridayanti, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan pemerintah pusat kepada koperasi yang dipimpinnya.
“Kita mendapatkan bantuan yang luar biasa. 24 kolam dengan paket komplit. Dari pakan, obat-obatan prabiotik, dan benih lelenya yang 60 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses budidaya akan terus didampingi oleh penyuluh perikanan.
“Kami selalu di dampingi dari penyuluh perikanan,” tambahnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid

































