Warga Desa Mustokoharjo Pati Manfaatkan Tambak Milik Pemdes

Warga-Desa-Mustokoharjo-Pati-Manfaatkan-Tambak-Milik-Pemdes

TAMPAK: Kawasan tambak ikan di Desa Mustokoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. (Arif Febriyanto/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id Posisi tengah kota, biasanya identik dengan bangunan gedung tinggi dan kondisi lingkungan yang bersih. Namun, ada hal unik yang bisa ditemui di tengah Kota Pati yaitu keberadaan area tambak ikan di Desa Mustokoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati.

Desa ini terletak tak jauh dari pusat Kota Pati, tepatnya sebelah utara Jalan Lingkar Selatan (JLS). Tak seperti pada zaman dulu yang menimbulkan bau tak sedap, areal tambak seluas 3 hektar kini sudah tak berbau lagi.

Palupi, selaku Kepala Urusan (Kaur) Desa Mustokoharjo mengatakan, tambak ikan didominasi oleh ikan lele, nila, dan gurame dengan masa panen 2 hingga 3 bulan untuk lele dan 6 bulan untuk nila dan gurame.

“Luas kolam yang ada di sini 3 hektar. Yang utama itu ikan lele, ada juga gurame dan nila. Tetapi harganya mahal gurame, oleh karena itu juga mahal, naik terus. 2 sampai 3 bulanan sudah bisa panen kalau ikan lele, kalau gurame 6 bulanan,” papar Palupi.

Hasil panen biasanya dijual secara hidup-hidup. Tetapi beberapa warga Desa Mustokoharjo, khususnya yang berada di Dusun Ngantru mulai membuat inovasi dengan membuat lele asap guna meningkatkan nilai ekonomi ikan lele.

Palupi menambahkan, bahwa areal tambak merupakan tanah bengkok milik Pemerintah Desa (Pemdes) Mustokoharjo yang bisa disewa oleh siapa saja. Harga sewa per tahunnya pun bervariasi antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta tergantung luas tambak.

“Ini kan kolam bengkok, jadi disewakan bukan milik pribadi. Tidak hanya penduduk sini, ada yang dari desa tetangga. Saya kurang hafal pastinya. Harga sewa macam-macam. Ada yang Rp 500 ribu per tahun sampai Rp 1 juta per tahun, ada juga yang lebih tergantung luas kolam,” tambahnya.

Keberadaan area tambak ini, menurutnya dibangun karena unsur hara dalam tanah yang terlalu banyak mengandung garam sehingga tidak cocok untuk dijadikan area persawahan, dan lebih cocok ke area tambak.

“Dulu itu sawah, tapi tidak produktif. Jadi dibuat kolam. Dulu kan kena limbah pabrik juga, jadi mengandung garam. Pengairannya juga kurang bagus, sehingga sawah kurang produktif, oleh karena itu dibuat areal tambak,” jelasnya.

Untuk mengubah kondisi tanah areal tambak juga memerlukan biaya yang mahal, karena harus dilakukan pengeringan di lahan yang basah tersebut.

“Area tersebut memang cocok untuk sektor perikanan,” pungkasnya. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Koran Lingkar)