Unik, Dinlutkan Rembang Bangun 16 Apartemen Rajungan

Unik Dinlutkan Rembang Bangun Apartemen Rajungan

PROSES PENGERJAAN: Pembuatan apartemen rajungan di Dukuh Layur Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, beberapa waktu lalu

REMBANG, Lingkarjateng.id – Apartemen Rajungan Terasa asing ditelinga, akan tetapi keberadaan apartemen rajungan ini sangat dibutuhkan mengingat tidak sedikit masyarakat di Kabupaten Rembang yang berprofesi sebagai nelayan rajungan. Hasil laut yang melimpah dan penangkapannya yang tergolong mudah membuat rajungan menjadi primadona para nelayan kecil di pesisir Rembang untuk memperoleh pundi-pundi uang.

Namun dengan intensitas penangkapan nelayan yang cukup tinggi ternyata memberi dampak yang tidak baik untuk kelestarian rajungan itu sendiri. Sebab tidak sedikit nelayan justru mendapat tangkapan rajungan dengan kondisi bertelur.

Padahal sesuai dengan terbitnya Peraturan Menteri KP Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di Wilayah NKRI, nelayan dalam kondisi bertelur dilarang untuk ditangkap.

Untuk itu, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang membuat semacam tempat penangkaran rajungan atau disebut apartemen rajungan. Rajungan dalam kondisi hidup dan bertelur hasil dari tangkapan nelayan akan ditempatkan di apartemen tersebut.

Sub Koordinator Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan Dinlutkan Kabupaten Rembang Herry Martono, Jumat (18/11) menyampaikan apartemen rajungan pertama kali di uji cobakan di Dukuh Layur Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem pada tahun 2020.

Pembangunannya digagas oleh Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) dan Pokmaswas Perikanan (Kelompok Masyarakat Pengawas Perikanan) dari Jepara. Bersama dengan nelayan setempat, apartemen rajungan itu dibangun di tengah laut yang jaraknya kurang lebih 1 mil dari bibir pantai layur.

Lebih lanjut Herry menjelaskan, apartemen rajungan merupakan salah satu upaya untuk melestarikan rajungan di perairan laut Rembang. Apartemen rajungan itu berbentuk semacam keramba berukuran 8 x 9 meter dengan pilar bambu yang menancap pada dasar laut.

Pada apartemen rajungan itu terdapat beberapa kotak berukuran 30×30 centimeter yang terbuat dari bambu yang digantungkan menggunakan tali kemudian ditenggelamkan kedalam laut. Kotak-kotak itu yang nantinya digunakan sebagai tempat untuk menaruh rajungan yang bertelur.

PENANGKARAN: Dinlutkan Rembang bekerjasama dengan nelayan di Dukuh Layur, Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem membangun apartemen rajungan.

“Istilah kerennya apartemen, karena bentuknya seperti rumah-rumahan dari bambu yang sudah dibelah dan dirangkai menjadi kotak-kotak berukuran 30 centimeter. Karena membutuhkan biaya yang cukup banyak, akhirnya nelayan di Gedongmulyo memodifikasinya dengan keranjang buah. Itu justru lebih efisien,” terangnya.

Mekanismenya, kata dia, nelayan yang mendapatkan rajungan bertelur dari hasil melaut langsung diletakan di apartemen rajungan. Setelah rajungan menetas, baru nelayan bisa mengambil indukannya untuk dijual.

“Setiap kotak diisi satu rajungan. Karena rajungan sebenarnya bersifat kanibal, sehingga harus dipisah dengan yang lain,” tuturnya.

Keberadaan telur rajungan yang menetas di sekitar apartemen tentu kedepannya akan memberi keuntungan bagi para nelayan. Sebab nelayan tidak perlu jauh-jauh melaut karena jumlah rajungan yang ada di sekitar apartemen semakin melimpah.

“Biar nanti para nelayan sekitar melautnya untuk mencari rajungan ya hanya sekitar situ. Tidak usah jauh-jauh, sehingga menguntungkan perbekalan,” ucapnya.

Melihat kesuksesan apartemen rajungan di Dukuh Layur Desa Gedongmulyo, membuat Dinlutkan Rembang merencanakan membangunnya di wilayah lain. Meliputi Desa Banyudono Kecamatan Kaliori, Desa Pandean Kecamatan Rembang, dan Desa Sukoharjo Kecamatan Rembang.

Pada masing-masing Desa terdapat 4 titik apartemen rajungan yang dibangun. Jika ditotal, Kabupaten Rembang memiliki 16 apartemen rajungan yang dibangun untuk melestarikan rajungan.

Untuk Desa Banyudono, Pandean, dan Sukoharjo saat ini sifatnya masih menjadi embrio dari pembangunan apartemen rajungan. Proses awal pembuatan habitat dengan menggunakan kerang hijau masih dilakukan hingga saat ini.

“Istilahnya disana itu dilumutkan dulu. Ini masih kearah kerang hijaunya dulu yang nanti kerang hijaunya Ketika sudah bisa menghasilkan untuk pemberdayaan nelayannya, baru nanti kita tambah ke model apartemen rajungan,” bebernya.

Dikatakannya, selain untuk melestarikan rajungan, keberadaan apartemen rajungan juga bermanfaat untuk menjaga ekosistem laut. Apartemen rajungan akan memancing habitat laut lainnya untuk berkembangbiak di apartemen rajungan.

“Fungsinya lagi juga nanti ada kerang. Kerang hijau nanti akan menempel pada tali-tali yang digunakan untuk menggantungkan rumah rajungan. Kerang hijau rata-rata, dan bonusnya bisa untuk sarana memancing. Karena pasti akan banyak ikan karena disana ada habitat yang benar-benar hidup. Teman-teman banyak yang menggunakannya untuk mincing karena diatasnya ada panggungnya,” pungkasnya.(Lingkar Network | R. Teguh Wibowo – Koran Lingkar)