Tradisi Guyang Cekathak, Warga Colo Kudus Bagikan 350 Dawet Muria

MENCUCI: Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) tengah melakukan guyang cekathak atau mencuci pelana kuda peninggalan Sunan Muria di Sendang Rejoso, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus pada Jumat, 30 September 2022. (Hasyim Asnawi/Lingkarjateng.id)

MENCUCI: Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) tengah melakukan guyang cekathak atau mencuci pelana kuda peninggalan Sunan Muria di Sendang Rejoso, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus pada Jumat, 30 September 2022. (Hasyim Asnawi/Lingkarjateng.id)

KUDUS, Lingkarjateng.id – Setiap Jumat Wage di akhir bulan September, masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus melangsungkan tradisi guyang cekathak. Tradisi ini dilakukan untuk melestarikan peninggalan Sunan Muria yang berupa pelana kuda.

Tak hanya guyang cekathak, warga Colo juga membagikan 350 porsi dawet Muria dan berbagai makanan lain dalam pelakasanaan tradisi yang dilaksanakan hari ini, Jumat, 30 September 2022. Tak kurang dari 300 warga baik pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM), pedagang, tukang ojek, dan masyarakat setempat tampak guyub rukun meneruskan tradisi yang sudah turun temurun itu.

Dimulai dengan tahlil dan doa bersama sejak jam 07.00 WIB di Makam Sunan Muria, masyarakat kemudian melanjutkan kirab diiringi rebana sembari membawa cekathak ke Sendang Rejoso untuk dibasuh.

Pembacaan tahlil dan doa kembali dilakukan di Sendang Rejoso, setelahnya beberapa pengurus tampak mengguyur pelana kuda Sunan Muria dari air sendang.

Prosesi dilanjutkan dengan makan bersama dan pembagian dawet Muria sebanyak 350 porsi kepada warga.

Juru kunci Sendang Rejoso sekaligus Bendahara YM2SM, Muhammad Bambang Budi Iriyanto,  mengatakan tradisi guyang cekathak sudah berlangsung lama dan sudah dilakukan secara turun temurun. Pihaknya berupaya melestarikan tradisi tersebut dengan mengajak keterlibatan semua elemen masyarakat.

“Biasanya bertepatan dengan musim kemarau panjang, jadi sekaligus dalam rangka bersyukur, bersedekah kepada warga dan memohon doa minta hujan,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa tradisi guyang cekathak tidak terdapat niatan syirik karena memang dalam rangka melestarikan tradisi. Dalam prosesi mencuci cekathak atau pelana kuda, pihaknya juga membawakan shalawat nabi. Sedangkan air hasil basuhan tersebut juga ada yang diambil masyarakat untuk mengalap berkah dari Sunan Muria.

Sedekah yang diberikan kepada warga untuk selamatan juga bermacam-macam, mulai dari sayur urap, opor ayam, gulai kambing, hingga dawet sebagai harapan warga akan datangnya hujan.

Sementara Sendang Rejoso dipilih menjadi lokasi pelaksanaan, mengingat dulunya menjadi tempat berwudhu dan bersih diri Sunan Muria. Tradisi ini, menurutnya, semula dilakukan untuk mengajak masyarakat sekitar Gunung Muria untuk melestarikan sumber air yang berada di kawasan Muria.

Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, tahun ini pelaksanaan tradisi guyang cekathak sedikit berbeda. Dawet yang dalam tradisi lama diguyang-guyang atau dilemparkan ke udara kini dialihkan untuk dibagikan kepada warga.

“Dulu diguyang ke udara dan mubazir karena terbuang sia-sia, makanannya juga terkena dawet sehingga tidak dimakan. Jadi setelah mendapat masukan warga, kini dibagikan kepada warga,” jelasnya.

Pihaknya berharap, tradisi guyang cekathak ini dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya supaya tidak punah, sekaligus sebagai edukasi menjaga kelestarian alam Muria. (Lingkar Network | Hasyim Asnawi – Koran Lingkar)