Terus Melonjak, 83 Kasus DBD di Kendal Terjadi dalam 3 Bulan

FOGGING: Petugas sedang melakukan fogging untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD di Kelurahan Kalibuntu Wetan, Kecamatan/Kabupaten Kendal. (Arvian Maulana/Lingkarjateng.id)

FOGGING: Petugas sedang melakukan fogging untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD di Kelurahan Kalibuntu Wetan, Kecamatan/Kabupaten Kendal. (Arvian Maulana/Lingkarjateng.id)

KENDAL, Lingkarjateng.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kendal terhitung tinggi. Bulan September 2022 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal mencatat terdapat 45 kasus DBD dengan 3 orang meninggal dunia. Kasus DBD di Kendal diprediksi melonjak memasuki peralihan musim hujan tahun ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kendal, Siswanto, mengungkapkan pihaknya merasa prihatin dengan tingginya kasus DBD di Kendal.

Siswanto menyebutkan bahwa kasus DBD di Kendal hingga awal Oktober ini meningkat. Sebelumnya, pada bulan Agustus terdapat 36 kasus DBD dengan korban meninggal 2 orang.

“Kemudian kasusnya naik, pada bulan September terdapat 45 kasus dengan korban meninggal dunia 3 orang. Sementara di bulan Oktober ini sudah ada dua kasus, yang satu di antaranya meninggal dunia,” ungkapnya, pada Senin 10 Oktober 2022.

Berbagai upaya dilakukan Dinkes Kendal untuk melakukan penanganan langsung ketika menemukan kasus DBD, di antaranya melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui sumber nyamuk penyebab DBD.

“Selanjutnya melakukan fogging di lingkungan yang ditemukan kasus DBD dan meninggal dunia sebagai langkah pencegahan darurat,” imbuhnya.

Meskipun dilakukan fogging, lanjutnya, dengan terus meningkatnya kasus DBD ini pihaknya mengimbau masyarakat untuk bersama-sama melakukan gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup, mendaur ulang, dan melakukan kegiatan pencegahan lainnya.

“Pasalnya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga tidak efektif maka hanya dilakukan ketika kondisi darurat,” jelas Siswanto.

Tak hanya itu, sosialisasi pencegahan DBD terus dilaksanakan Dinkes bersama Puskesmas dan lintas sektoral melalui selebaran, spanduk, media elektronik maupun media sosial untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DBD.

“Aksi dari puskesmas dan lintas sektoral untuk mencegah DBD itu sudah sejak dulu dilakukan, tapi karena kondisi paska Covid-19 ini banyak bekas tempat cuci tangan yang tidak diperhatikan sehingga menjadi sarang nyamuk,” terangnya.

Dirinya menegaskan cara mudah untuk mencegah DB adalah dengan menerapkan pola hidup bersih di lingkungan sekitar.

“Sosialisasi ini terus kami lakukan, tujuannya supaya masyarakat tahu dan mau bergerak bersama-sama memberantas nyamuk dengan 3M plus. Kalau kita dengan upaya-upaya teknik, sedangkan masyarakat dengan 3M Plus” tuturnya.

Sementara itu, Bidan Kelurahan Kalibuntu Wetan Kecamatan Kendal, Awalina Mastuti, menyampaikan bahwa kasus DBD di wilayahnya mencapai 6 orang dan 1 orang meninggal dunia. Menurutnya kasus ini diketahui pada Agustus lalu hingga saat ini.

“Sebagian sudah dinyatakan sembuh, namun masih ada yang sedang dirawat di rumah sakit. Pada pekan ini juga banyak anak sekolah yang tidak masuk sekolah karena sakit dengan gejala seperti DBD,” bebernya.

Terlebih saat ini sudah memasuki peralihan ke musim hujan dimana biasanya banyak ditemukan genangan air tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti.

“Oleh karena itu, kepada masyarakat kami himbau untuk rutin melakukan gerakan 3M plus, minimal seminggu sekali,” pungkasnya. (Lingkar Network | Arvian Maulana – Koran Lingkar)