SMK di Kudus Luncurkan Terobosan Produk Inovatif Berbahan Kopi dan Cokelat

SMK di Kudus Luncurkan Terobosan Produk Inovatif Berbahan Kopi dan Cokelat

PROSES: Siswa SMK Duta Karya menjelaskan proses pengolahan produk baru berupa kopi dan cokelat yang dicampur rempah-rempah. (Hasyim Asnawi/Lingkarjateng.id)

KUDUS, Lingkarjateng.id – Salah satu SMK di Kudus yaitu SMK Duta Karya Kabupaten Kudus akan meluncurkan produk baru dari cokelat dan kopi lokal yang dicampur rempah-rempah. Produk tersebut merupakan ciptaan Unit Kerja Teaching Factory di pusat Laboratory Kimia Industri.

Guru Kimia Industri SMK Duta Karya Kudus, Faruq Makhrus mengatakan, produk terbaru tersebut saat ini sedang dalam proses pengajuan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Guru yang sekaligus Ketua Pelaksana Laboratorium Produksi tersebut juga menjelaskan bahwa, tahun ini ditargetkan sudah mendapatkan izin PIRT.

“Untuk trainer sendiri sudah kita lakukan dua kali. Saat ini kami sudah melakukan set up mesin, trainer, pembuatan desain, dan juga kemasan,” jelasnya pada Jumat, 5 Agustus 2022.

Faruq mengaku, produk yang diciptakan oleh siswa-siswinya tersebut untuk sementara hanya boleh dikonsumsi dari kalangan internal. Pasalnya, pihaknya masih perlu menyelesaikan proses kemasan dan tester hingga menemukan formula yang tepat.

Terkait proses pembuatan, ia menjelaskan bahwa, kopi atau cokelat akan dicampur dengan rempah-rempah seperti jahe, pala, cengkeh, kayu manis, dan rempah lainnya. Sehingga, kombinasi antara rasa kopi atau cokelat dengan rempah-rempah akan menciptakan rasa baru yang khas. 

“Saat ini masih dalam tahap trainer atau uji coba. Kopi yang masih jadi primadona di berbagai kalangan, kita padukan dengan hangatnya rempah-rempah, mumpung baru ramai wedang rempah,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memproduksi dalam jumlah yang banyak, mengingat tenaga kerja yang diandalkan oleh tim laboratorium adalah pelajar. Selain itu, ia juga mengaku kekurangan bahan baku.

Dirinya berharap, ke depan produk yang baru dirintis tahun ini segera mendapat izin PIRT. Sehingga, dapat menjadi unit usaha yang mampu memproduksi dalam jumlah yang banyak dan berkelanjutan. 

“Ini bisa jadi implementasi nyata dari sekolah yang dirasakan manfaatnya langsung oleh peserta didik dan lingkungan. Jadi kreativitas yang dibentuk di sekolah tidak hanya dari buku atau pelajaran saja, tetapi juga berupa karya dan unit usaha,” pungkasnya. (Lingkar Network | Hasyim Asnawi – Koran Lingkar)