Petani Grobogan Tertarik Budidaya Tanaman Okra

BERTANI: Petani Grobogan membudidayakan tanaman okra, Desa Genengadal, Kecamatan Toroh. (Muhamad Ansori/Lingkarjateng.id)

BERTANI: Petani Grobogan membudidayakan tanaman okra, Desa Genengadal, Kecamatan Toroh. (Muhamad Ansori/Lingkarjateng.id)

GROBOGAN, Lingkarjateng.id – Para petani di Kabupaten Grobogan, saat ini mulai tertarik dengan budidaya tanaman okra. Bahkan, sejumlah kawasan okra saat ini sudah mulai panen. Hal itu dikatakan Jaedun, seorang petani okra di Desa Genengadal, Kecamatan Toroh.

Dia mengatakan, pihaknya menanam tanaman okra semenjak bulan Februari lalu, bahkan saat ini tanamannya mulai masa panen. Menurutnya, awalnya dia tidak tahu sama sekali mengenai tanaman okra.

Kemudian, pada akhir Januari ada koordinator dari PT. Kelola Agro Makmur (KAM) yang main ke rumahnya dan membicarakan pengembangan okra di Grobogan dengan sistem kemitraan.

Petani di Jepara Tak Dapat Pupuk Bersubsidi Tanpa Kartu Tani

“Dari cerita teman ini akhirnya saya tertarik untuk mencoba. Lalu, pada bulan Februari saya dikasih benih untuk ditanam. Alhamdulillah, sekarang sudah panen dan dapat duitnya lumayan,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator PT. KAM di Grobogan Agus Triyono mengatakan, untuk tahap awal tahun 2022, pihaknya sudah memiliki areal tanam okra sekitar 40 hektar yang sebagian besar ada di Kecamatan Godong dan Toroh.

Untuk areal okra di Kecamatan Godong ada di Desa Ketangirejo, Anggaswangi, Jatilor, dan Guci. Kemudian di Kecamatan Toroh ada di Desa Krangganharjo, Dimoro, Katong, Genengadal, Bandungharjo, Sugihan, Pilangpayung dan Genengsari. 

“Awal tanam Februari, sebagian lainnya mulai Maret. Saat ini, sebagian diantaranya sudah mulai panen,” jelasnya.

Cuaca Buruk, Petani Blora Terpaksa Panen Dini

Dia mengungkapkan, untuk budidaya okra dinilai cukup mudah dan biayanya ringan. Kelebihan lainnya, sejauh ini hama tikus tidak menyerang tanaman okra. Tanaman okra sudah bisa dipanen perdana ketika berumur 45 hari. Panen ini bisa terus berlanjut hingga tanaman umur empat bulan lebih, tergantung kondisi perawatan.

Masih dikatakan Agus, tanaman okra ini punya potensi hasil panen 12-17 ton per hektar, tergantung perawatannya. Dalam budidaya okra ini, pihaknya mendampingi petani dari awal hingga panen.

“Untuk harga okra berkisar Rp1.500 per kilo untuk grade B dan yang masuk grade A Rp5.500 per kilo. Hasil panen okra langsung kita tampung untuk diekspor ke Jepang,” sambung Agus. (Lingkar Network | Muhamad Ansori – Koran Lingkar)