Pedagang Gerabah Blora Alami Penurunan Omzet saat Lebaran

BERDAGANG: Dul, pedagang gerabah mainan anak yang sedang menjajakan dagangannya di Jalan Blora-Randublatung, baru-baru ini. (Lilik Yuliantoro/Lingkarjateng.id)

BERDAGANG: Dul, pedagang gerabah mainan anak yang sedang menjajakan dagangannya di Jalan Blora-Randublatung, baru-baru ini. (Lilik Yuliantoro/Lingkarjateng.id)

BLORA, Lingkarjateng.id – Sejumlah pedagang gerabah mainan mulai berdatangan di Blora. Aktivitas itu, kerap terjadi setiap tahun pada minggu ketiga bulan Ramadhan hingga Idul Fitri. Perkembangan zaman ditandai dengan perangkat teknologi yang semakin canggih, mulai menggerus keberadaan mainan tradisional, yakni gerabah mainan yang berasal dari tanah liat.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah pedagang gerabah mainan asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang bernama Dul (37). Dirinya mengaku telah menjajakan dagangannya di tempat-tempat yang berdekatan dengan taman hiburan atau pertokoan.

“Setiap tahun saya dan kawan- kawan datang ke Blora. Saya mangkal di tempat yang strategis dan berdekatan dengan lokasi taman hiburan atau pertokoan,” ucapnya pada Rabu (04/05).

Ditinggal Silaturahmi Lebaran, Rumah Warga Tambahrejo Blora Hangus Terbakar

Adapun gerabah mainan yang dijual adalah uleg, kekep, tungku, cobek, kendi, asbak dan celengan yang berbentuk hewan kura- kura, kelinci, sapi, macan dan katak.

Dul menjual mainan tersebut dengan harga Rp2.000, sedangkan untuk ukuran celengan ditawarkan mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 bergantung dari ukurannya.

Beberapa trotoar yang menjadi pangkalan pedagang gerabah mainan tersebut di antaranya sekitar Taman Sarbini, Taman Rekreasi Tirtonadi dan Jalan Blora-Randublatung, lebih tepatnya sebelah utara Pom Gabus, Kelurahan Mlangsen.

Dul juga menambahkan, omzet lebaran tahun ini agak menurun dibandingkan pada tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19.

Berkah Lebaran, Pedagang Janur Blora Kebanjiran Order

“Rata-rata Rp150.000-Rp300.000, per hari. Turun drastis lebaran tahun ini. Mungkin ekonomi masyarakat juga baru bangkit, karena dua tahun adanya pandemi. Semoga tahun akan datang omzet penjualan kembali normal seperti dulu lagi,” terangnya.

Sementara itu, Tri Indah (24), salah seorang pembeli asal Kecamatan Blora menuturkan, mainan berbahan tanah liat itu relatif aman dan terjangkau. Selain itu, bisa menjadi media pengenalan bagi anak-anak untuk bermain dan belajar memasak.

“Harganya terjangkau, murah dan relatif aman. Anak bisa bermain dan mengenal alat dapur, pokoknya murah banget,” terangnya. (Lingkar Network | Lilik Yuliantoro – Lingkarjateng.id)