Pedagang Baju Muslim Kebanjiran Pesanan di Kudus

Pedagang Baju Muslim Kebanjiran Pesanan di Kudus

MENUNJUKKAN: Pedagang baju muslim yang menunjukkan sarung instan anak. (Antaranews/Lingkarjateng.id)

KUDUS, Lingkarjateng.id – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1443 H, sejumlah pedagang busana muslim dan perlengkapan sholat di Kabupaten Kudus kebanjiran pesanan dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Kurniati Setyaningsih, produsen konveksi pakaian muslim asal Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus mengaku bahwa omzet yang didapatkan naik hingga 40 persen.

“Kenaikannya bisa mencapai 40-an persen untuk berbagai produk, mulai dari baju muslim hingga sarung instan untuk anak,” ucapnya, Sabtu (30/4).

Nekat, Pedagang Liar di Kudus Tetap Berdagang di Kawasan Terlarang

Ia juga mengatakan bahwa pesanan datang hampir dari berbagai daerah di Tanah Air, jadi tidak hanya mendapat pesanan dari wilayah Kudus saja.

Produk terlaris yang dimiliki yakni sarung anak yang dibuat khusus untuk usia 0-12 tahun karena didesain seperti celana dan mudah dipakai oleh anak dengan bahan dari bahan sarung. Sedangkan harga jual mulai dari Rp40.000 hingga Rp70.000 per potong.

“Pemesanan mulai berdatangan justru sebelum puasa, sehingga sebelumnya memang memperbanyak stok karena prediksinya ada kenaikan permintaan. Ternyata benar, karena sehari saya mengerjakan hingga 300 potong sarung instan dari sebelumnya jumlah sebanyak itu untuk kebutuhan dua hingga tiga hari,” ujarnya.

Penertiban Pedagang Liar Terkendala, Disdag Kudus: Tempatnya Strategis untuk Jualan

Sementara Yunus, pedagang busana muslim di Pasar Kliwon Kudus mengakui kebijakan boleh mudik memang memberikan dampak luar biasa, karena pesanan naik hingga 80-an persen, daripada Lebaran tahun 2021. Dengan adanya kenaikan pesanan, dirinya mengaku, omzet penjualannya dalam sehari bisa Rp 10 juta.

Sedangkan Dasa Gentawati, perajin sarung dan peci batik juga mengakui adanya kenaikan pesanan kopiah dan sarung batik selama bulan Ramadan. Bahkan untuk sarung kenaikannya bisa 100 persen, sedangkan kopiah hanya 30 persen.

Ia mengaku, penjualannya tidak hanya secara konvensional, melainkan juga melalui marketplace karena promosinya murah dan mudah sehingga bisa menyasar konsumen dari berbagai daerah di Tanah Air.

Ia menjual kopiah batik dengan harga Rp75 ribu per buah, sedangkan sarung berkisar Rp 100 ribuan per potong dengan menyesuaikan ukuran. Motif kopiah maupun sarung batik yang disediakan merupakan motif khas Kudus, seperti Menara Kudus, beras kecer, gerbang Kudus Kota Kretek, dan beberapa motif lainnya. (Lingkar Network | Lingkarjateng.id)