Longsor di Grobogan, Warga Desa Ngrandah Gunakan Pekarangan Jadi Akses Jalan

Longsor di Grobogan, Warga Desa Ngrandah Gunakan Pekarangan Jadi Akses Jalan

LONGSOR : Kondisi jalan yang longsor di Dusun Sasak, Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. (Muhamad Ansori/Lingkarjateng.id)

GROBOGAN, Lingkarjateng.id Jalan longsor di Grobogan tepatnya yang terjadi di Dusun Sasak, Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan mengakibatkan aktivitas warga terganggu. Warga setempat juga sudah setahun ini terpaksa menggunakan pekarangan rumah sebagai alternatif pengganti jalan yang longsor.

Sementara, kondisi badan jalan yang mengalami longsor sekitar 20 meter dengan ketinggian sekitar 3,5 meter. Untuk tetap bisa aktivitas, maka warga setempat terpaksa menggunakan pekarangan sepanjang 20 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter.

Kepala Desa Ngrandah, Sri Untari Handayani mengatakan bahwa, aktivitas warganya terganggu dan ada sekitar 150 KK (kepala keluarga) yang hampir terisolasi akibat longsor tersebut.

Sebanyak 150 KK tersebut di antaranya warga yang tinggal di RT 1, RT 2, dan RT 3. Agar tetap bisa aktivitas dan keluar masuk Dusun Sasak, maka pekarangan rumah warga dijadikan sebagai jalan alternatif pengganti jalan yang longsor.

Sri Untari Handayani mengungkapkan bahwa, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jawa Tengah pernah melakukan perbaikan, namun tak bertahan lama longsor itupun kembali terjadi, bahkan longsor terjadi di titik yang lain. 

“Longsor tersebut sudah terjadi sejak awal tahun 2021 lalu. Hal ini karena titiknya berada di pinggiran sungai, dari pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sebenarnya sempat memperbaiki. Sudah tiga kali melakukan perbaikan, namun tetap saja kembali longsor,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena dusun tersebut dikelilingi Sungai Peganjing. Sehingga cukup rawan terhadap bencana longsor. 

“Yakni dari sisi barat, timur, dan utara. Sedangkan, di sisi selatan ada hutan yang berbatasan dengan Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer. Di sisi ke Karanganyar hanya jalan setapak. Tidak bisa dilewati kendaraan. Jadi ya memang terisolasi,” jelasnya. (Lingkar Network | Muhamad Ansori – Koran Lingkar)

Exit mobile version