Ketua DPRD Demak Tanggapi Dampak Pembangunan Jembatan Wonokerto

RAPAT DENGAR: Ketua DPRD Demak, Sri Fahrudin Bisri Slamet, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Pengurus Daerah Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak pada Jumat, 1 Oktober 2021. (Dok. Facebook DPRD Kabupaten Demak/Lingkarjateng.id)

RAPAT DENGAR: Ketua DPRD Demak, Sri Fahrudin Bisri Slamet, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Pengurus Daerah Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak pada Jumat, 1 Oktober 2021. (Dok. Facebook DPRD Kabupaten Demak/Lingkarjateng.id)

DEMAK, Lingkarjateng.id – Kemacetan parah yang terjadi di jalur Pantura Demak-Semarang akibat dampak dari pembangunan jembatan Wonokerto membuat para pengemudi mengeluh. Salah satu pengemudi dari Demak yang hendak pergi ke arah Semarang terpaksa harus terjebak macet kurang lebih selama dua sampai tiga jam pada Jumat, 12 Agustus 2020.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Demak, Sri Fahrudin Bisri Slamet mengimbau agar para pengemudi untuk tetap bersabar.

“Mohon bersabar, artinya apapun itu memang kondisinya seperti ini, dan kita sebagai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak meminta maaf kepada para pengemudi. Mohon untuk kesabarannya, kita hanya bisa mendorong semoga pembangunan jembatan itu bisa cepat diselesaikan,” ungkapnya.

Pembangunan jembatan Wonokerto, kata Ketua DPRD Demak, merupakan kewenanan dari pemerintah pusat dan pastinya setiap pembangunan akan memberikan dampak di masyarakat dan lingkungan setempat.

“Sebenarnya pembangunan ini pasti akan berdampak, ada yang berdampak kurang baik dan ada yang berdampak baik. Sebetulnya pembangunan ini merupakan kewenangan pusat bukan kewenangan kabupaten, kita yang terkena imbasnya,” lanjutnya.

Salah satu dampak kurang baiknya adalah timbulnya kemacetan. Namun dampak baiknya, warga sekitar memanfaatkan kondisi tersebut untuk berjualan minuman keliling.

“Terkait dengan pedagang asongan yang meraup keuntungan ini merupakan bagaimana mereka memanfaatkan situasi tersebut, kalau tidak ada pedagang asongan para pengguna jalan kalau ingin membeli minuman akan kesusahan juga, artinya saling membutuhkan,” pungkasnya. (Lingkar Network | Tomi Budianto – Koran Lingkar)

Exit mobile version