Harga Komoditas Pangan Alami Penurunan usai Lebaran di Pati

Harga Komoditas Pangan Alami Penurunan usai Lebaran di Pati

MELAYANI: Pedagang daging ayam di salah satu pasar wilayah Pati sedang melayani pembeli. (Ika Tamara Dewi/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id – Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati melalui Kepala Bidang Perdagangan, Koeswantoro mengungkapkan bahwa harga sejumlah komoditas pangan di pasar mulai berangsur mengalami penurunan setelah Lebaran. Salah satunya seperti harga daging sapi murni mengalami penurunan sebesar Rp5.000.

“Harga daging memang ada kenaikan menjelang Lebaran, ya nggak begitu signifikan, ya merangkak sedikit. Ini per tanggal 10 Mei 2022 itu sudah terpantau turun sampai Rp5.000 yang awalnya Rp135.000. Ada kecenderungan menurun, mudah-mudahan nanti bisa diikuti oleh komoditas yang lain,” ungkapnya, Kamis (12/5).

Selain daging sapi, daging ayam kampung juga mengalami penurunan yang semula Rp85.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp80.000 per kilogram.

Kenaikan Harga BBM dan LPG di Pati Imbas Harga Komoditas Pangan

Kemudian cabai merah lokal yang semula harganya Rp55.000 per kilogram telah turun menjadi Rp50.000 per kilogram. Sementara untuk harga minyak goreng curah, pihaknya masih terus melakukan pemantauan karena masih memberlakukan HET (Harga Eceran Tertinggi) dari pemerintah. Sedangkan untuk minyak goreng kemasan premium harganya bervariasi karena sudah tidak ada penerapan HET dari pemerintah.

“Kalau untuk minyak curah itu, kami tetap melakukan pemantauan harga, agar dapat dijual ke masyarakat sebesar Rp14.000 per liter. Tapi kalau yang sudah sampai ke pengecer atau pun di pasar, biasanya bisa mencapai Rp15.000 atau Rp15.500. Walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan karena intinya Rp14.000. Tapi bagaimana ya, pengecer yang ada di pasar atau pedagang yang ada di desa-desa ya seperti itu. Tapi kami tetap melakukan pemantauan,” jelasnya.

Jelang Ramadhan, Harga Komoditas Pangan di Pati Naik

Sementara, pihaknya menegaskan akan selalu melakukan pemantauan dan pengendalian agar stabilitas harga dapat tercapai. Namun, apabila terjadi penyimpangan, pihaknya akan memberikan pembinaan sesuai dengan aturan yang berlaku.

”Jadi kalau pun terjadi penyimpangan, kami bisa melakukan pembinaan atau pun kalau penyimpangan itu sangat terlalu, ya kami akan melakukan laporan, misalnya ke pihak provinsi. Ya selama ini kami selalu melakukan pemantauan agar harga bisa mendekati HET atau tidak jauh dari HET,” pungkasnya. (Lingkar Network | Ika Tamara Dewi – Koran Lingkar)