Anggarkan Rp 8 Miliar, Distapang Pati Dorong Peningkatan Lumbung Pangan

Anggarkan Rp 8 Miliar, Distapang Pati Dorong Peningkatan Lumbung Pangan

MENYAMPAIKAN: Kepala Distapang Pati, Tri Haryama. (Arif Febriyanto/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pati (Distapang Pati), Tri Haryama mengungkapkan, Kabupaten Pati memiliki delapan lumbung pangan dengan anggaran masing-masing Rp 1 miliar. Keberadaan lumbung pangan ini tentu saja sangat penting untuk menjaga stok pangan di Kabupaten Pati.

Kedelapan lumbung pangan tersebut dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desa-desa yang tersebar luas di Kabupaten Pati. Khususnya yang memiliki areal pertanian padi yang cukup luas. Hal ini karena, lumbung pangan ini digunakan untuk menyimpan gabah kering yang dibeli Distapang Pati dari para petani lokal.

“Ada delapan di masing-masing Gapoktan punya lumbung yang ada di Desa Karangwage Kecamatan Trangkil, Desa Sumeragung Kecamatan Jaken, Desa Sokopuluhan Kecamatan Pucakwangi, Desa Beketel dan Desa Slungkep Kecamatan Kayen, Desa Tanjunganom Kecamatan Gabus, Desa Tambahagung Kecamatan Tambakromo, Desa Sejomulyo Kecamatan Juwana,” ujar Tri Haryama belum lama ini.

Dengan anggaran total Rp 8 miliar, digunakan untuk membangun satu tempat lumbung pangan (selepan). Selain itu, dibangun pula areal jemur dan untuk membeli mesin penggiling padi.

Tri melanjutkan, masing-masing lumbung kemudian diserahkan sepenuhnya kepada Gapoktan desa yang diawasi oleh Distapang Pati. Hal tersebut karena lumbung pangan dibangun di atas tanah desa.

“Ini dalam tahapan penyelesaian pembangunan. Anggarannya satu tempat satu miliar. Desa punya Gapoktan yang dikelola desa. Anggaran dari Pemkab Pati, sedangkan lahan milik Pemdes,” imbuhnya.

Ia mengatakan, jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam atau paceklik, gabah yang disimpan dalam lumbung akan diolah menjadi beras untuk kemudian disalurkan kepada korban bencana melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Selain untuk menjaga ketahanan pangan di kala paceklik atau bencana, keberadaan lumbung pangan ini juga untuk mengendalikan harga panen gabah di kalangan para petani agar tidak merugi. Mengingat, seringkali petani menjual harga panen gabah dengan harga murah karena tidak adanya lumbung pangan untuk menyimpan.

“Tujuannya (juga) kan mengendalikan harga supaya tidak dikendalikan tengkulak. Misal harga turun, disimpan dulu,” tutupnya. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Koran Lingkar)