4 Desa di Bandar Batang Berhasil Tuntas Bebas Kebiasaan BAB

MENINJAU: Pj Bupati Batang, Lani Dwi Rejeki meninjau penanganan stunting di Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, salah satu desa dari empat desa yang telah bebas dari kebiasaan Buang Air Besar atau Open Defecation Free (ODF). (Dok. Pemkab Batang/Lingkarjateng.id)

MENINJAU: Pj Bupati Batang, Lani Dwi Rejeki meninjau penanganan stunting di Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, salah satu desa dari empat desa yang telah bebas dari kebiasaan Buang Air Besar atau Open Defecation Free (ODF). (Dok. Pemkab Batang/Lingkarjateng.id)

BATANG, Lingkarjateng.idPenjabat (Pj) Bupati Batang, Lani Dwi Rejeki meninjau penanganan stunting di Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar Kabupaten Batang, salah satu desa dari empat desa yang telah bebas dari kebiasaan Buang Air Besar (BAB) atau Open Defecation Free (ODF).

Tuntasnya ODF ini merupakan upaya percepatan penanganan stunting di Kabupaten Batang. Bersamaan dengan kegiatan itu juga dilakukan penyerahan makanan tambahan pemulihan ibu hamil dan balita.

Lani Dwi Rejeki mengungkapkan bahwa kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang untuk penanganan stunting sudah sesuai dengan instruksi  Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, salah satunya tuntasnya ODF.

“Kecamatan Bandar sendiri mempunyai empat desa yang tuntas dari ODF yakni Desa Wonomerto, Desa Wonodadi, Desa Binangun dan Desa Pesalakan. Tinggal 13 desa yang harus diupayakan tuntas dari ODF lagi,” katanya usai meninjau stunting di Aula Kantor Desa Pesalakan Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang pada Rabu, 31 Agustus 2022.

Di Kecamatan Bandar sendiri, balita yang menderita stunting ada sebanyak 613 dari jumlah balita sebanyak 5.610. Meskipun yang terkena stunting lumayan sedikit angkanya, tetapi upaya penanganan terus diupayakan seperti adanya bantuan pihak ketiga seperti Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Seperti saat ini, lanjut dia, ada CSR yaitu Bimasena Power Indonesia, Bank Jateng dan BPR Bapera Batang yang telah memberikan bantuan berupa pendukung makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita.

“Ke depan tinggal ada inovasi penanganan stunting pada tingkat desa yang dilakukan seperti kampanye peduli stunting, pelaksanaan kegiatan kelas ibu hamil dan desa binaan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif,” ujarnya. (Lingkar Network | Lingkarjateng.id)

Exit mobile version