Harga Pupuk Naik, Petani Kendal Tercekik

Harga pupuk Kendal

LINI USAHA: Penjual pupuk non subsidi di Kendal tengah melayani pembeli. (Unggul Priambodo/Lingkarjateng.id)

KENDAL, Lingkarjateng.id – Hampir satu bulan harga pupuk non subsidi di Kabupaten Kendal naik secara tidak wajar. Yang semula harganya hanya Rp90.000-an per karung (50 kg), kini menjadi Rp190.000 per karungnya.

Bahkan saat ini, pupuk urea, NPK Phonska, serta ZA, mengalami kenaikan hingga 100 persen. Tak hanya itu, pupuk subsidi pemerintah dirasakan petani juga harganya mahal. Sementara harga komoditi pertanian dinilai tidak sebanding dengan pengeluaran petani.

“Sebenarnya kenaikan harga pupuk seperti ini bukan menjadi persoalan baru. Tapi mau gimana lagi, mahal atau enggakm ya petani tetap membeli. Karena itu kebutuhan,” ujar Mujiono, salah satu petani padi di Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kendal, Kamis (10/2).

Mujiono berharap, pemerintah memeriksa ke lapangan terkait naiknya harga pupuk yang tidak wajar ini. Ia mengaku kesulitan mencari pupuk subsidi. Alhasil ia terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya jauh lebih mahal.

Pupuk Subsidi NPK di Pati Belum Terpenuhi

“Yang non subsidi melambung hingga Rp500.000 sampai Rp600.000 per karungnya. Dan kebutuhan pertanian seperti pestisida dan insektisida juga naik harganya. Kalau beli pupuk subsidi harus punya kartu tani di daerahnya sendiri,” lanjutnya.

Hal serupa juga dirasakan Rusmi, petani lain di Kecamatan Patebon. Ia mengaku, tanaman padinya tidak bisa menghasilkan banyak keuntungan. Lantaran selama perawatan, ia hanya memberi pupuk dua kali. Padahal seharusnya diberi pupuk 3 kali.

“Ya karena harga pupuknya mahal, jadi saya cuma bisa ngasih pupuk dua kali. Saya juga gak punya kartu tani, terpaksa belinya pupuk non subsidi,” ujar Rusmi.

Rusmi berharap, agar pemerintah bisa menstabilkan harga pupuk agar kembali normal. Ia juga meminta jika harga pupuk mahal harusnya harga komoditi juga bisa digenjot, sehingga bisa menguntungkan petani.

“Jika menggunakan pupuk bersubsidi, kualitasnya kurang bagus hasilnya. Jika menggunakan pupuk non subsidi, hasilnya bagus, tapi harganya tidak terjangkau. Karena itu pemerintah harus turun tangan,” tukasnya. (Lingkar Network | Unggul Priambodo – Koran Lingkar)

Exit mobile version