Pedagang di Rembang Terpaksa Kulak Minyak Goreng Bundling

Pedagang Minyak Goreng

MENJAJAKAN: Endang Siti Qoriah, Pedagang minyak goreng di pasar Kota Rembang. (R. Teguh Wibowo/Lingkarjateng.id)

REMBANG, Lingkarjateng.id – Pedagang di pasar Kota Rembang terpaksa kulak minyak goreng secara bundling dari distributor. Jika tidak, maka pedagang tidak akan memiliki stok minyak goreng untuk dijual kembali kepada konsumen.

Salah seorang pedagang di pasar Kota Rembang, Endang Siti Qoriah, Selasa (8/3) mengungkapkan proses kulak minyak goreng dari sales masih terbilang cukup sulit. Pasalnya pedagang seperti dirinya dibatasi hanya bisa kulak 1 karton (Kardus) minyak goreng.

Selain itu, jika mau kulak minyak goreng 1 karton pedagang juga harus membeli beras sebanyak 2,5 kilogram. Jika tidak pedagang tidak akan bisa mendapat minyak goreng untuk dijual kembali.

Stabilkan Harga Minyak Goreng, Disperindag Jepara Gandeng Bulog

“Seperti minyak goreng Bimoli 1 karton, maka harus membeli juga beras 2,5 kilogram. Itu diharuskan untuk semua pedagang di pasar. Hanya diberi 1 karton saja, tidak bisa lebih atau nambah,” terangnya.

Jika ditotal, harga beras yang harus dibeli seharga Rp11.600 per kilogram. Sementara untuk total belanja kulakan 1 karton minyak goreng dan beras, dirinya harus merogoh kocek Rp191.000.

Hal serupa juga diutarakan oleh Yanto, pedagang sembako di pasar Kota Rembang. Bahkan saat ini dirinya tidak memiliki stok minyak goreng karena pasokan dari sales dinilai masih seret.

Operasi Pasar Minyak Goreng, Pemkab Jepara Sediakan 8.796 Liter

Padahal, jika minyak goreng dibundling dengan barang apapun dirinya tetap bersedia untuk membeli. Namun, kenyataannya pedagang masih harus gigit jari lantaran seretnya pasokan minyak goreng.

“Seumpama barangnya ada saya tetap mau beli, tidak masalah. Yang penting ada barangnya, karena barangnya juga masih sulit didapatkan. Sampai saat ini tidak punya stok minyak kemasan,” jelasnya.

Sebelumnya, Yanto membeli minyak goreng sebanyak 5 karton dengan kewajiban membeli beras sebanyak 5 kilogram. Terkadang dirinya juga terpaksa ikut menjual minyak goreng secara bundling kepada konsumen karena dikhawatirkan berasnya tidak laku dijual.

“Posisinya juga dijual seperti paketannya itu. Kadang kalau minyak gorengnya laku tetapi berasnya tidak laku ya bingung,” pungkasnya. (Lingkar Network | R. Teguh Wibowo – Koran Lingkar)

Exit mobile version