Ongkos Distribusi Mahal, Ekspor UMKM Terganjal

ILUSTRASI: Petugas memasang spanduk pada kontainer berisi furniture UKM Jawa Tengah yang akan dikirim perdana ke Belgia di Terminal Petikemas Tanjung Emas, Semarang, Jumat (29/10/21). (ANTARA/LINGKARJATENG.ID)

ILUSTRASI: Petugas memasang spanduk pada kontainer berisi furniture UKM Jawa Tengah yang akan dikirim perdana ke Belgia di Terminal Petikemas Tanjung Emas, Semarang, Jumat (29/10/21). (ANTARA/LINGKARJATENG.ID)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Tengah (Jateng) menyebut, ada beberapa kendala yang dikeluhkan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terkait perdagangan skala global. Salah satunya ongkos distribusi barang yang masih terbilang mahal.

Direktur Eksekutif  Kepala Perwakilan BI Provinsi Jateng Pribadi Santoso mengatakan, memang ada kenaikan harga minyak selama masa pandemi ini. Bahkan, kenaikan itu terjadi hampir tiga kali lipat dari sebelum masa pandemi Covid-19.

Hal itu yang menyebabkan kontribusi UMKM di Indonesia untuk mengekspor produk masih sangat rendah. Pribadi mengungkapkan, angka ekspor tersebut masih ada dibawah 15 persen.

“Mahal karena harga minta memang naik. Jadi harga minyak sekarang 83 dollar per barel. Ketika sebelum pandemi harganya 30 dollar. Artinya kan naik hampir 3 kali lipat,” ujar Pribadi, belum lama ini.

Pribadi melanjutkan, perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi pelaku UMKM agar produknya bisa menembus pasar internasional.

Misalnya, suatu produk harus memiliki kualitas yang baik. Kemudian cocok digunakan di lokasi yang akan dituju.

“Menembus ekspor memang tidak mudah. Ada perizinan dan ketentuan yang harus dipenuhi. Kalau UMKM naik kelas itu kualitasnya harus lebih baik, bisa memenuhi ketentuan untuk bisa diekspor,” jelasnya.

Kendati sulit, pihaknya tetap mendorong agar produk-produk UMKM bisa mendunia. Terlebih, ekspor produk UMKM Provinsi jateng relatif tinggi dibandingkan wilayah lain selama masa pandemi. Hingga Agustus lalu, jumlah ekspor non migas yang dilakukan berkisar di angka 37 persen.

Menurutnya, ada banyak produk-produk UMKM Jateng yang diminati masyarakat mancanegara. Utamanya, furnitur yang berbahan dasar dari kayu dan keramik.

Ia menuturkan, peminatnya banyak dari masyarakat Uni Eropa dan Amerika Serikat. Ada lebih dari 50 persen produk dari Jawa Tengah sudah dipasarkan di dua benua tersebut. Selain itu, sejumlah produk juga dipasarkan ke Jepang dan Tiongkok.

“Artinya produk-produk UMKM Jateng ini sangat diminati di dua Pasar itu. Itulah pentingnya punya ruang pamer,” imbuhnya.

Selain bermanfaat dari segi perekomian, keberadaan UMKM juga memiliki kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Bahkan, UMKM yang ada saat ini sudah menyumbang 95 persen penyerapan tenaga kerja.

Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong agar para pelaku UMKM memperluas pangsa pasarnya.

Diakui selama masa pandemi ini, telah terjadi penurunan daya beli produk UMKM untuk domestik. Namun, pihaknya percaya hal tersebut bisa diatasi dengan menjual produk ke luar negeri.

“Kami dorong untuk ekspor supaya daya beli dari sisi domestik yang masih rendah tertutup dengan ekspor,” pungkasnya. (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)