Lakukan Ini sebagai Pertolongan Pertama pada Korban Kecelakaan

ILUSTRASI: Pertolongan pertama pada korban kecelakaan. (Freepik @wavebreakmedia_micro/Lingkarjateng.id)

ILUSTRASI: Pertolongan pertama pada korban kecelakaan. (Freepik @wavebreakmedia_micro/Lingkarjateng.id)

Lingkarjateng.id – Tingginya mobilitas kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Tak sedikit kecelakaan lalu lintas berisiko menyebabkan dampak yang serius pada korban. Oleh sebab itu pertolongan pertama yang tepat dapat membantu mencegah cedera maupun luka pada korban tidak semakin parah.

Tak jarang, saat melihat kecelakaan lalu lintas justru merasa bingung untuk melakukan tindakan pada korban karena tidak punya pengetahuan dan kemampuan sebagai tenaga medis. Sebenarnya, pertolongan pertama pada korban kecelakaan tidak harus langsung dilakukan oleh tenaga kesehatan, masyarakat secara juga bisa membantu asal  tahu prinsip dasarnya. Sebab korban kecelakaan yang tidak segera ditolong bisa jadi dapat terancam kematian

Pertolongan pertama pada korban kecelakaan merupakan bentuk perawatan yang bersifat sementara sebelum korban mendapat penanganan yang lebih baik. Pertolongan pertama yang tepat sebelum tenaga medis datang dapat menyelamatkan korban  seta mencegah kecacatan.

Ada beberapa prinsip pertolongan pertama yang harus dilakukan ketika menemukan kejadian kecelakaan lalu lintas. Pertama, dengan segera meminta bantuan dan menghubungi hot line 119. Kedua, pastikan diri kondisi yang aman sebelum melakukan tindakan pertolongan. Selanjutnya, minta bantuan orang untuk mengamankan lokasi kejadian. Keempat, bila situasi memungkinkan pindahkan korban ke lokasi yang lebih aman dengan cara yang tidak memperparah korban. Penting untuk tidak memindahkan kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan karena merupakan barang bukti kepolisian.

Setelah dalam kondisi aman, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan;

1. Pastikan korban masih hidup atau sudah meninggal

Cek kondisi korban dengan merasakan hembusan napasnya. Dengar dan rasakan hembusan napas korban dengan mendekatkan telinga atau pipi ke hidung korban sambil melihat pergerakan naik-turunnya dada korban. Periksa kuku korban dengan cara menekannya, bila dari awal kuku tampak pucat dan teraba dingin, atau awalnya kemerahan dan beri tekanan selama 2 detik, kemudian menjadi pucat dan tidak kembali kemerahan maka kemungkinan korban sudah meninggal.

2. Cek status kesadaran korban

Bila korban masih hidup, pastikan tingkat kesadaran korban dengan metode AVPU. Yaitu Alert (sadar), kondisi korban masih bisa merespons dan dapat berkomunikasi aktif. Voice (respon suara), korban dapat berespon ketika dipanggil namanya dan cenderung tidur. Pain (respons nyeri) korban dapat berespon bila diberi rangsang nyeri dan korban memberikan respon hanya berupa erangan atau usaha menepis. Unresponsive (tidak ada respons), korban tidak memberikan respon setelah diberikan rangsang nyeri.

Jika korban sadar dang mengeluhkan sesak napas, pertolongan yang bisa dilakukan adalah dengan melepas benda yang digunakan korban seperti helm, jaket, dasi, buka kancing baju, dan pengait celana. Longgarkan ikat pinggang. Paling penting, jangan pernah memberikan air minum pada korban sesak napas dan tunggu hingga bantuan medis datang.

3. Membebaskan jalan napas

Periksa korban apakah terdapat cedera pada kepala dan leher. Jika tidak ada, lakukan tindakan membuka jalan napas dengan cara menengadahkan kepala korban dan mengangkat dagu korban.

Pada korban yang dicurigai mengalami cedera kepala dan disertai cedera tulang leher, lakukan tindakan dengan cara jaw thrust atau membuka rahang. Sedangkan pada korban yang terdengar dengan suara berkumur yang diduga akibat sumbatan berupa cairan (darah, muntahan, dsb) maka tubuh korban dapat dimiringkan ke salah satu satu sisi yang memungkinkan cairan dalam mulut korban mengalir keluar.

4. Proses pemindahan korban

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memindahkan korban agar tidak membuat kondisi korban semakin parah. Pertama, lakukan proses pemindahan dengan minimal tiga orang agar tidak memperparah cedera. Kedua, korban dipindahkan seperti mengangkat jenazah. Ketiga, posisi penolong harus dengan komposisi atu orang pada bagian atas meliputi kepala sampai bahu, kemudian 1 orang pada bagian tengah yang meliputi bagian punggung sampai bokong dan 1 orang selanjutnya pada bagian bawah yang mulai dari lutut hingga mata kaki. Keempat, hindari korban dari posisi menggantung terutama pada bagian leher atau kepala.

5. Ketika korban mengalami pendarahan hebat

Sangat mungkin korban kecelakaan mengalami pendarahan hebat. Hentikan pendarahan dengan menekan langsung pada tempat yang berdarah dengan menggunakan kain yang digulung ataupun alat/ benda lainnya dengan cukup kuat. Posisikan daerah yang mengalami perdarahan lebih tinggi daripada jantung. Pertahankan balut tekan sampai bantuan medis datang. Jangan pernah memberikan benda apapun untuk menghentikan perdarahan, seperti mengoleskan oli, minyak rem, dan lain-lain.

Demikian panduan mini untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Tindakn di atas sangat berarti bagi korban serta membantu tidak memperparah kondisi luka maupun cedera yang dialami korban. (Lingkar Network | Ulfa – Koran Lingkar)

Sumber Referensi:

Wijaya, Andy. (2019). Buku Saku Pertolongan Pertama pada Korban Kecelakaan di Jalan: Jadilah Penolong Kecelakaan di Jalan Semua Orang Bisa Jadi Penolong. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.  

Exit mobile version